Razel membuka mata lentiknya. Ketukan jarinya berhenti saat ia menyadari pemandangan di depannya berubah. Yang ia rasa, barusan ia duduk di ruang kerjanya. Yang penuh akan tumpukan kertas dan buku, ia juga tak melupakan bekas tumpahan tinta di atas meja kerjnya. Pemandangan sekarang kosong. Hanya membawa dirinya dan kursinya.
Razel berdiri, merapikan coat birunya. Angin sepoi menghembuskan rambut kemerahannya. Ia pandangi sekeliling hutan bambu yang asing di ingatannya.
Mimpi? Atau ilusi?
"Hai, Meitzent."
Razel menangkap siluet keputihan yang ia kenal dari balik tirai bambu. Razel melangkah, tiap sulir daun bambu yang menyentuh kulitnya terasa sangat nyata. Yang pasti Razel yakin ini bukanlah sebuah ilusi atau mimpi.
"Moineau" Razel memandang datar ke arah Syerin yang duduk membelakanginya. Razel hanya bisa memandang punggung dan rambut peraknya yang berkibar dihempas angin. Saat mendekatinya, Razel tahu kalau Skyerin tengah memakukkan setengah kakinya ke dalam danau yang sebagian permukaannya ditutupi daun bambu yang berguguran. "Dimana?"
"Tempatku. Ini bukan ilusi" Skyerin menggerakkan kedua kakinya dengan santai. Mata hijaunya memandang datar ke ratusan gugur daun yang terhempar angin.
"Lalu?" Razel bisa saja menyerang sosok penyihir yang menjadi polemik di negrinya, tapi saat ini ia hanya manusia biasa. Ia tidak membawa senjata untuk melawan ataupun alat untuk perlindungan. Akhirnya ia hanya mengikuti alur yang diinginkan lelaki bertubuh mungil di depannya.
"..." Skyerin diam tak menjawab. Ia berdiri dari duduknya, denga kaki basahnya ia berjalan menuju Razel. "Kau tidak merindukanku?"
"Untuk apa aku merindukanmu?" Razel membalas dingin.
"Karena aku merindukanmu."
"Oh, ya?"
Razel hanya membalas manja Skyerin dengan sebuah kecupan singkat.
Skyerin mendorong tubuh Razel untuk melepaskan pelukannya. Ia berjalan kembali ke tempat sebelumnya ia terduduk. Razel beridiri diam tetap di tempatnya memandang Skyerin. Sejujurnya ia penasaran kenapa ia sampai di'undang' oleh si penyihir, tapi sepertinya situasi tidak mendukung dirinya untuk membuka percakapan.
"Razel."
Razel sedikit terkejut mendengar nama depannya di panggil. Hanya keluarganya yang ia perbolehkan memanggil dirinya dengan nama depan. Tapi... ya sudahlah.
"Kau akan ada di pihak siapa?"
"Apa maksudmu?" Razel mengrenyitkan dahinya.
"Manusia atau penyihir."
"Aku terlahir sebagai manusia" Sudah jelas ia akan menjawab bahwa ia berpihak pada manusia. Ia tidak mungkin mengkhianati bangsanya sendiri. Ia sama saja mengkhianati keluarganya, satu hal yang membuatnya bertahan dalam kerasionalan.
"Oh" Hanya itu balasan Skyerin. Razel memutar bola matanya.
"Kenapa kau memanggilku, atau membawaku? kesini?"
"Aku pikir kau ada di pihakku."
"Huh. Jangan besar kepala hanya karena kau mendapatkan kecupanku." Terdengar suara kekehan pelan dari Skyerin. Menyibak poninya, ia berbalik memandang Razel, "Kalau aku memang seperti itu, kenapa?"
Razel tertegun, sebuah perasaan asing menggelitik dadanya. "Kau terdengar konyol."
"Puh, kau tahu bercanda kan?" Skyerin berdiri. Kini ia berlajan ke arah kanan Razel, menembus hutan bambu. "Aku sedikit mengharapkan perubahanmu saat kau melihat ini."
Razel mengikuti langkah Skyerin dalam diam.
Mereka melintasi hutan bambu selama kurang lebih 7 menit, hingga Razel melihat sedikit celah cahaya di ujung jalan setapak mereka. Sepatu boots Razel menapat di jalan setapak terakhir yang berlapis batu alam. Ia memandang ke sebuah perkampungan kecil.
Ia melihat sebuah kayu bakar yang menyala setengah dengan kepulan asap tipis. Anak-anak berkumpul di padang bunga dandelion bermain bersama. Pemandangan yang biasa, sering ia lihat, namun ada perbedaan yang menggelitik hatinya. Membuatnya ingin menertawakan dirinya sendiri yang tak mampu mengerti.
"Kau merasakan sesuatu?"
Razel diam. Matanya melirik ke arah Skyerin yang memasang senyum sinis andalannya.
"Lihat? Itulah kami. Damai 'kan? Apa kami terlihat seperti bersalah?"
Razel membuka matanya. Sekali hentak nafas, ia sudah sadar sepenuhnya kalau ia sudah kembali ke ruang kerjanya. Ia menatap lembar kertas yang tercecer tertiup angin, buku yang menumpuk, dan sebuah bercak bekas tinta di atas mejanya.
Dia sudah kembali.
Dengan otak yang dipenuhi polemik.
TBC
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar