Minggu, 06 November 2011

Rose And Bird (Chap. 4)

Nggak jauh dari dugaanku, ternyata café nya benar-benar terlihat suram dengan penerangan minim. Kok rasanya kayak warung remang-remang (oke, kidding). Tapi lupakan soal seriosa, lagu yang dipake ternyata cuma instrumental. Duh, denger suara piano aku jadi kangen Merudi (nama pianoku) di rumah. >.< Lama aku nggak pake, sibuk sih 0 30.

Aku duduk di kursi yang sudah disiapin. Kursi apa sofa ya? Eh, bener juga, kayak Host Club nih (yang gak tahu silahkan cari definisinya sendiri XP). Tapi enak juga pake sofa. Seenggaknya pantat gak perlu panas sama benda bernama kayu yang nggak ada empuk-empuknya. Ternyata meja kamu itu tepat di tengah café yang letaknya terpisah (tapi sebangunan) sama butik. Tepatnya di bawah lampu Kristal yang keliatan mewah.

Ngabisin duit berapa mama beli beginian? Gila, deh.

Suasana café masih sepi, maklumlah masih ditutup. Tapi diluar toko kayaknya rame banget. =w=

“Hm… Kayaknya enak.”

Mataku teralih ke Styx yang lagi liat-liat buku menu. Huh, dasar maniak es krim.

“Oah ya, Bara kayaknya coklat cakenya enak. Mau?”

“Terserah.”

“Masih uring-uringan?” Styx ngomong sesuatu ke pelayan cewek yang baru dateng, ngomongin pesanan kali. Setelah itu Styx mainin poni pirangnya yang hampir sempurna nutupin mata kanannya yang berwarna merah.

“Nggak juga. Cuma bosen.”

“Ngomong-ngomong, gimana proker (program kerja) kegiatan osis?”

‘ctak‘ Sebuah perempatan muncul di dahiku. Nih orang… “Tanya aja ke sekertaris. Lagian ngapain sih Tanya urusan sekolah, ngancem?”

“Nggak kok, cuma tanya.”

Mataku memandang kearah conter bar. Eh, ngapain ada bar segala di sini? =.=a um… gak ngerti, ah! Bukan urusanku…

Ada seorang gadis dan seorang lelaki yang beridiri di balik bar, mereka kayaknya lagi bersihin gelas sambil ngobrol. Mereka cuma pake baju maid sama buttler. Kenapa aku pake baju ginian sih? ;^; nasib… nasib… Duh, panas lagi, suhunya diturunin lagi dong! >.< rasanya wignya udah nempel di kulitku.

“Gugup?”

“Nggak.”

“Kok kringetan?”

“Panas.”

“Memangnya panas?”

Grrr… Kayaknya Styc lagi caper nih! =.= “Habisnya aku duduk deket iblis neraka.”

“…”

“…”

“Aku ya?”

Aku menepuk jidatku. Nih orang ternyata lemot ya.

“Sudahlah, aku capek.” Aku mengeluh. Dipikir-pikir, ini aja belum ada tamu, gimana kalau tamu udah pada dateng? Ya tuhan… Kuatkan hambamu yang lemah ini… Eits! Tapi aku nggak selemah cewek! >.< (ada juga sih cewek yang kuat :P)

“Sama.” Styx menyandarkan setengah tubuhnya di meja bundar depan kita. Sedikit suara derak mengiringi balasannya yang kecil. Kok kayaknya aneh, ya? Ternyata s genit bisa capek juga…

Beberapa menit kemudian, pesanan Styx datang. Dia pesen 2 Chocolate truffle Cake sama 2 gelas Chocolate ice cream. Dasar maniak manis.

Styx menegakkan badannya. Mengucapkan terima kasih (yang diselipi kata-kata rayuan gombal) ke pelayan yang mengantar pesanan kami. Wanita itu berlalu dengan pipi yang merona. Hidih… Dasar playboy cap semut(karena Styx maniak manis?)!!!

Styx mulai menusuk-nusuk cakenya dengan garpu mini berlapis kain hitam di ujung tangkainya. Mengikuti, aku mulai menggigit potongan cake pertamaku. Rasa coklat menguar di tiap inci mulutku. Sebenarnya sih aku nggak terlalu suka manis, tapi… Rasanya lidahku biasa saja saat mengecap coklat cake khas Inggris ini.

“Enak?”

“Ngapain kau tanya? Emang kau yang buat?” Aku memutar-mutar garpuku asal di atas cake, membuat toppingnya tak tampak cantik lagi.

“Aku yang usul ke Mama buat masukin cake ini ke menu.” Styx masih saja melahap potongan cake. Uh… mulutku rasanya dilapisi oleh sesuatu… uh… nggak ada air putih, ya?

“Pantas saja menunya kebanyakan coklat.”

“Hm…”

Ah, ternyata sudah ada beberapa tamu yang duduk di sekeliling kami. Ah, aku nggak nyangka ternyata banyak juga yang hobi pakai baju ngerepotin kayak gini =w= Ouh… Kakiku cenat cenut ;o;

“Bagaimana menurutmu…”

“Apanya?”

“Bara house.”

“Biasa aja.”

Sekarang sudah ada sekitar 4 orang yang duduk di 2 kursi terpisah. Ada beberapa orang yang terlihat berjalan di ujung pintu café, mungkin mereka berniat mampir ke butik terlebih dahulu. Risih juga diliatin live seperti ini. Mending di foto aja =.= Aih, mana ada cewek yang ketawanya serem…

“Ada coklat di pipi

“Nggak perlu gombal, trik basi playboy” lagian aku bukan cewek =A=”

“Puh

Tiba-tiba sebuah saputangan tersodor di samping piring cakeku. Aku memandang datar Styx yang tersenyum geli, ukh… Kenapa rasanya senyumnya beda dari biasanya ya?

“Bukan rayuan, kok. Aku masih mau menjaga harga diriku daripada tertangkap basah ditendang seorang cewek.”

“Koreksicowok!” Bagus juga dia masih nyadar status(?). Aku mengambil sapu tangan kecoklatannya dan dengan hati-hati mengusapkannya ke pipi kananku yag tadi ia tunjuk (aku nggak mau riasanku hancur). Ternyata memang ada noda coklat, uh malu-maluin.

“Hahaha…” Aku menghentikan gerak tanganku. Aku nggak salah liat kan? Styx? Si genit? Ketawa lembut? Nggak ada kedipan gaje? Atau colekan? Atau senyum genit? Atau… Atau…

Beberapa kikikan suara terdengar di telingaku. Oh, shit! Sekarang kita bener-bener jadi tontonan. Maluuuu!!!!! >////<

“Styx…?”

“Ya?”

“Ada yang salah… dengan ‘ini’mu?” Aku menunjuk ke dahiku.

“Yang salah wajahmu.”

Great! Ngapain juga aku jadi gugup. Uh… Kenapa perutku jadi mual ya? Apa karena kebanyakan makan coklat? Perasaan Cuma beberapa potong deh yang aku makan. Ukh… Jangan senyum kayak gitu dong!

“Tuan Finch, kan?”

“Ya?” Aku dan Styx secara bersamaan menatap seorang gadis berambut hitam kemerahan se pinggang yang berdiri sekitar 2 meter di samping kami. Senyum malu mengambang di wajahnya yang terpoles apik. Manis… Manis… Manis… o///////////o

“Boleh aku minta foto… denganmu?”

Styx balas tersenyum. “Apa yang tidak untuk gadis semanis kamu?”

Kumat juga gombalnya. =.=a tapi serius, gombalnya itu jadi sedikit… lembut… kenapa ya?

“Bara.”

“Ah, ya?” (dengan suara cewek yang dibuat-buat) aku membalas sapaan seorang gadis lain yang menghampiriku. Seorang gadis (terntu saja) yang memakai make up ‘baby doll’ dengan baju bermotif kelinci. Yang ini juga nggak kalah manis, hehehe…

“Aku lihat foto anda di catalog. Anda terlihat sangat manis…”

Hahahaha… (dengan nada garing) masa aku dibilang manis sama cewek manis? Rasanya aneh… =A=”

Beberapa jam setelahnya (kayaknya sekitar 3 jam) kami di kerubungi banyak cewek-cewek. Bahkan es krim yang Styx pesan mencair tanpa ada yang memakannya.

Setelah café sedikit lengang, aku memilih berdiri dari dudukku. Astaga… pinggangku rasanya retak. Ukh… Pantatku panas ;_;

“Mau kemana?”

“Toilet.”

“Jangan lupa ke toilet cewek, ya.”

“Diam!!”

Jangan percayaaa!!! DX Aku nggak bener-bener ke toilet cewek, kok! Aku tetep ke toilet cowok, tapi liat keadaan dulu. Lagian tokok kayak gini jarang banget didatengi sama cowok, tapi nggak heran kalau toilet cowok itu kayak belum pernah di sentuh.

“Uhm!” Tidak ada yang menyaut, baguslah kalau toilet sepi. Dengan cepat aku berjalan memasuki toilet cowok. Semoga nggak ada yang liat aku masuk ke toilet cowok! Akh! Astaga… gelagatku bener-bener kayak cewek yang niatnya ngintip cowok, deh! DX

“Akh!”

“Akh!”

Aku melotot. Dia juga melotot. Ya dia, dia, dia… Aku liat ada cewek… yang melotot ke arahku.

“Anu… ini toilet pria loh, Bara.”

Shit! Ketauan! Eh, loh? Dia kan juga cewek. Dengan gugup aku menunjuknya.

Rambut hitam lurus sepinggang. Bulu mata yang lentik. Kulit mulus. Pipi merona. Tubuh ramping. Uh.. Uh… ngapain ada cewek yang masuk ke toilet cowok?!!!

“Kai! Aku nggak mau pake baju kayak gi“ Ada lagi cowok yang keluar dari kamar ganti (di toilet ada 2 kamar ganti dan 3 WC) Cowok yang wajahnya mirippppppp banget sama cewek yang kayaknya habis ngaca itu sama-sama ngeliatin aku. Astaga… Mereka kayaknya kembar identik, deh! Tapi, tapi, tapi! Kok cewek masuk toilet cowok?!! (Walau nggak papa sih kalau cuma ada mereka berdua, mereka kan saudara jadi nggak mungkin ngelakuin hal yang macem-macem)

“Kei! Sudah kubilang apa, kau cocok kok! Tapi kerahnya kayaknya kesempitan, deh!” cewek yang dipanggil ‘Kai’ itu cuek bebek sama aku yang berdiri mematung. Mereka malah asik sendiri ngerapiin cowok yang namanya ‘Kei’. Aduh, pusing! >.<

“Anu, maaf mungkin aku salah masuk…” Aku akhirnya nyelonong keluar toilet. Padahal aku mau pipis!!! >.< Apa terpaksa ke toilet cewek? ;^;

Kayaknya harus…

SKIP!!!!(Please, ini memalukan! >/////////<)

“Ah, siang Bara…”

3 kali, 3 kali aku sudah di sapa di dalam toilet cewek. ASTAGA!!! Toilet cewek!! ;o;

Sok nggak tahu apa-apa aku keluar toilet dan berjalan tergesa ke arah mejaku dan Styx. Saat aku sudah hampir sampai, aku baru sadar kalau Styx sedang ngobrol sama 2 couple (cewek&cowok). Dari bajunya sih… kayaknya si kembar deh… Kalau nggak salah ceweknya Kei, cowoknya Kai. Apa kebalik ya? Nggak tau ah! >.<

“Gara-gara kau! Kai jadi ikut nyeret aku ke sini!” si cowok yang ternyata bernama Kai itu agar membentak.

“Nggak ada salahnya lagi sekali-kali kamu ikutan hobi adikmu…”

Styx kenal ya sama mereka? Aku liat mereka akrab pas ngobrol bareng. Kai yang tanganya ngegapit lengan Kei malah sesekali ketawa manissssssss banget! Ukh! Banyak cewek manis di sini! >///<

“Kecuali hobi anehnya.”

“Kenapa sih, Kai? Suka-suka aku dong!”

“Punya hobi yang wajar dong! Salah-salah kamu nanti dikira banci!”

Hah? Banci? Kei yang manis banget ini banci? Darimananya? Beda soalnya kalau dia kayak aku. Hikz… ; ^ ;

Eh, kayak aku?

“Ah, Bara.” Styx yang pertama sadar kalau aku berdiri di belakang sosok kembar yang masih jadi pusat pertanyaan di otakku. “Kenalkan, mereka Kai dan Kei. Kai kakaknya, mereka kembar.”

“Halo, bara! Kita sudah ketemu di toilet, ya” Aku balah tersenyum (kecut) ke arah Kei. Duh, rona pipinya itu makin terlihat jelas kalau dia lagi senyum. Andai aku bisa punya pacar kayak dia… Tingginya aja lebih pendek beberapa cm dariku. Yes! Aku nggak bisa dikatain ‘paling’ pendek lagi!

“Oh, ya Bara. Kei ‘sama’ denganmu, loh!”

Sama? Ayolah, Styx… Ngomong yang jelas dong. Aku kan agak lemot masalah gituan.

“Jadi, Za ya? Tapi kok dia tadi masuk ke toilet cewek?” Keiii!!! Nggak perlu ceritaaa!!! >.< AAAAAHHHHH!!!

“PUH!!“ Tuh, kan! Styx sampe nahan tawa mati-matian! GRAHH!!! MALU!!! >////////<

“Kok ada sih orang yang punya hobi crossdress.” Kai berkata jutek. Enak aja dia bilang! Aku nggak punya hobi gituan! Aku kan dipaks tau darimana dia? Eh, tadi Kei bilang nama asliku ya? Aku melotot ke Styx.

“Kai, Bara itu beda kasus sama Kei.”

Iya dong! Kita beda kasus! Aku kan dipaksa, kalau Kei kan emang hobiny

HA?!! HOBI?!!

- TBC

0 komentar:

Posting Komentar

© Copyright 2011 Denden Template design by D2S
Diberdayakan oleh Blogger.