Razel turun dari kereta kudanya. Mata hijaunya memandang datar ke arah sebuah kastil besar namun terkesan suram. Pagar besi setinggi pohon cemara yang berkarat. Kayu berlumu menjadi satu-satunya akses menyebrangi sungai untuk mencapai sisi lain kastil. Tanaman rambat menyatu dengan dinding kastil yang berwarna hitam.
“Mr. Meitzent, ikuti saya.”
Razel meningkatkan kewaspadaannya saat ia menginjakkan kakinya ke dalam halaman kastil.
Prisoner of Zalabyx. Tempat orang-orang terkutuk yang tertindas hukum Negara. Tertahan dalam jeruji dan dijadikan budak Negara. Bukan tempat yang nyaman untuk seorang bangsawan Kerajaan seperti keluarga Maizent, namun pengabdiannya sebagai jendral kepada Negara mengharuskannya menginjakkan kaki ke tempat penuh noda seperti ini.
“Maafkan kami, Mr Meitzent, membuat anda harus mendatangi tempat ini.”
“Sudah kewajibanku, kapan surat itu datang?”
“1 jam lalu.”
Dear, Zalabyx.
Sudah saatnya kami menetas.
Dengan penuh kehormatan, kami akan menghancurkan sangkar burung untuk membebaskan burung pipit kami.
Salam kami,
Son of Alice
Sangkar burung adalah Prisoner of Zalabyx dan burung pipit adalah para tahanan.
‘kami’?
Penyihir.
Konflik, kekuasaan, martabat. Manusia mempunyai sifat tak pernah puas dengan apa yang sudah di miliki. Sama halnya dengan para bangsawan kerajaan Zalabyx, kerajaan yang hampir menguasai seluruh dataran Eropa. Penyihir adalah makhluk yang dianggap tabu. 100 tahun berlalu hidup dalam peperangan antar penyihir dan manusia. Tidak ada yang menang—belum ada.
Feeling seorang pemegang nama Meitzent selalu kuat. Razel bahkan sudah terlebih dahulu memegang ujung pedangnya saat sebuah ledakan terdengar. Darahnya mengalir dengan bebas, bereaksi dengan oksigen. Sebuah pecahan batu tepat menggores kulit lehernya, nyaris menembus lehernya kalau saja ia tidak sempat menghindar.
“Wups”
Mata hijau Razel menangkap siluet manusia yang mendarat di balik kepulan asap ledakan. Sosok itu terlihat sedang melakukan sesuatu yang membuat Razel memicingkan matanya saking tak terlihatnya. Sayang, Razel sama sekali tidak tahu apa yang dilakukan sosok itu. Tapi yang pasti, di lorong ini hanya ada dia. ‘Huh… Lemahnya para penjaga’, Razel menatap sinis ke arah penjaga yang tadi menuntunnya.
“Eh, hai.”
Geraks reflex Razel menanggapi.
Keheningan menyelimuti mereka. Diantara kabut ledakan yang menipis.
Ujung Pedang Zeiz milik Razel menempel ke leher putih sosok asing di depannya. Sosok lelaki berambut putih yang berdiri mengimpitnya di antara dinding. Sedikit tekanan saja, kulit putih itu bisa terluka.
“Ups… Salah orang. Meitzent, ya?”
Razel tak mau kalah. Maitzent tak mau kalah oleh tatapan sinis yang diberikan untuknya dari mata hijau sewarna dengan bola matanya, di depannya. Ia mungkin saja membunuh orang asing yang seenaknya memanggil nama bangsawannya, namun sebuah ancaman dari tangan mungil lelaki di pundaknya membuatnya berpikir dua kali untuk menebas kepala si pelaku peledakan. Tepatnya, sebuah tongkat nyaris menusuk belakang lehernya.
“’pipit’, hmm?”
Raut wajah lelaki itu berubah. Bibirnya ia tekukkan, dan sebuah bulatan mini berwarna pink bertengger manis di kedua pipinya. “Jangan sebut aku seperti itu!”
“Lalu?” Razel menikmati permainan ini. Tangan kanannya masih menggenggam pedangnya erat, mengancam. Sedangkan tangan kirinya melingkar di pinggang lelaki berbaju casual ini.
“Skyerin, eits!” Skyerin sedikit melompat untuk menyamankan posisinya tanpa melepaskan ancaman satu sama lain.
“Sayang sekali Skyerin, kau tahanan Zalabyx. Kau tahu artinya.” Razel diam saja saat Skyerin menjilat luka di lehernya.
“Hm… Tapi teman-temanku sudah menjemput.”
“Teman?”
“Diluar.”
Razel menempelkan ujung pedangnya ke leher belakang Skyerin, membuat lelaki serba putih itu terpaksa makin menempelkan badannya ke Razel. Razel meraih bibir Skyerin dalam lumatan singkat.
“Siapa?”
“Teman.”
“Berapa?”
“Buat apa kamu tahu?”
“Karena mungkin semua penjaga sudah di’tidur’kan.”
“Yeah, feeling Meizent.”
Lama mereka saling berkomunikasi lewat tatapan mata. Tak bisa diidentifikasikan oleh orang lain selain diri mereka sendiri. Ah, bahkan penulis tidak tahu apa yang mereka pikirkan.
“…”
“…”
“Huh.”
Skyelin mendecih saat akhirnya dia dilepaskan dari ancaman. Ia tegakkan pinggangnya yang sudah melengkung hampir 15 menit tanpa gerak bebas. Ia mengacuhkan tatapan mata Razel yang menuntut.
“Aku tetap tidak bisa membiarkanmu pergi, ini tanggung jawab negara.”
“Zalabyx… Masa bodoh…” suara ketukan sepatu bergema di kastil yang sudah hening. Tidak ada lagi suara pemberontakan.
“Dasar, burung pipit nakal.”
“Siapa yang nakal, huh? Mencium orang yang baru pertama kali di temui? Sekalipun tahu jika orang itu musuh?” Skyelin berkacak pinggang menghadap ke arah Razel yang tengah merapikan pakaiannya. “oh ya, bukankah mencurigakan?”
“Huh?”
“Akan terlihat jelas jika kau membiarkanku bebas.”
Razel memutar kedua bola matanya, “Siapa bilang aku membiarkanmu bebas? Bukankah burung pipit lebih lincah di alam bebas? Hal itu membuatnya mudah bergerak dan sulit di dapatkan. Menarik, kan?” Razel memasang wajah sumringah saat ia kembali melihat wajah Skyelin yang cemberut.
“Kalau begitu, jalankan tugasmu.”
—KRAK
Sebongkah pecahan tembok memulai runtuhnya dinding di antara jarak mereka. Skyelin dengan bangga memutar tongkat sihirnya di depan dada.
“Hey, Meitzent, sudah kubilang jangan panggil aku dengan sebutan itu. Namaku Skyelin. Skyerin Moineau.”
Bongkahan terakhir benar-benar membuat jarak di antara mereka terputus.
“Moineau, ya… burung pipit tetap saja burung pipit.” Razel mengembalikan pedangnya ke sarung pedang di pingganggnya.
“Hm… ‘jalankan tugasku’? Tentu saja…”
TBC

0 komentar:
Posting Komentar