Minggu, 06 November 2011

Her Son in Zalabyx (Chap.2)

SRAK

Razel menerima uluran coat kulit kehitamannya. Ia pakai untuk menutupi seragam resmi pertemuan bangsawan Zalabyx. Dalam diam ia membiarkan pelayannya mengancingkan coatnya.

“Kereta kuda sudah saya siapkan, Mr. Meitzent” Seorang pelayan muncul di balik pintu kayu mahoni.

“Hn…”

Rampung dengan penampilannya, Razel berjalan menuju kereta kuda yang telah menantinya. Dan setengah jam kemudian, setelah ia melewati 4 desa kecil, ia sampai ke istana Zalabyx.
Memasuki pintu gerbang, ia disambut oleh sebuah sapaan ramah dari penjaga pintu. Mata hijaunya sudah di manja oleh puluhan Rose Hips yang ada di taman. Beberapa pohon cemara terpajang rapih. Dari jendela kecil kereta kuda, ia dapat memandang arsitek bergaya simetris istana Zalabyx. Tak banyak waktu lama hingga ia kini berada di depan pintu kebesaran istana Zalabyx.

“Mr. Meitzent” Dua orang penjaga pintu menunduk hormat, kemudian mereka membukakan pintu. Kemegahan ruang istana minimalis memanja matanya. Sekalipun ia sering datang ke istana, namun ia tak pernah bosan dengan gaya arsitek buah karya pengelana yang hanya mampir di setiap Negara selama 5 tahun sekali.

Melangkah ke arah yang sangat dihapalnya. Sebuah ruangan khusus yang hanya bisa di masuki oleh orang berpredikat ‘bangsawan’.

Pada pertemuan-pertemuan yang sebelumnya mungkin ia menanggapi dengan santai atau bahkan tidak peduli dengan isi pertemuan. Tapi untuk saat ini ia merasa memasuki daerah musuh. Karena untuk pertemuan ini, ia prediksikan membahas masalah yang bersumber padanya.

“Lusa, Prisoner of Zalaby kehilangan tahanan penting. Seorang penyihir bernama Skyerin” Seorang algojo membacakan gulungan dengan lantang dari kursinya.

Mata Razel menyipit, mengingat kejadian lusa yang membuatnya mendapatkan sebuah luka pertama dalam musim panas tahun ini.

“Di saat kejadian, Mr. Meitzent di pastikan telibat. Seluruh penjaga di temukan dalam keadaan pingsan, sedangkan Mr. Meitzent terkurung dalam Prisoner karena pintu masuk tertutup reruntuhan.” Algojo bertudung itu menunduk member salam sebelum kembali duduk di kursinya tepat di sebuah ruang mini mirip sangkar burung yang menempel di dinding.

“Mr. Meitzent bersih” Raja Zalabyx bersuara.

“Terimakasih, Rajaku…” Razel tersenyum dalam hati.

“Bukankah Skyerin itu penyihir yang ditahan sejak 2 tahun lalu?” Dewan tertinggi kerajaan berbicara digaungi oleh kasak kusuk ke 10 peserta pertemuan.

“Benar, tuanku. Dia di tahan setelah mencoba menyerang keluarga Miss Claudette” Mata Zehel mengerling ke arah wanita berambut coklat yang agaknya sedikit terkejut saat nama keluarganya di sebut.

“Ah, ya. Ayah saya menceritakannya” Gadis bermata laksana malam yang dipenuhi bintang itu mengangguk.

“Lalu, kenapa harus kemarin lusa?” bangsawan Mikael bersuara. “Seharusnya ada alasan kenapa dia baru kabur kemarin” Ah… Zahel lupa jika ada seorang penyusun strategi perang si sini. Batas logikanya bahkan bisa melebihi manusia normal

“ Sudah saatnya kami menetas. Dengan penuh kehormatan, kami akan menghancurkan sangkar burung untuk membebaskan burung pipit kami.”

“Bukankah seperti itu isi suratnya, Mr. Meitzent?”

Zahel nyaris meremukkan sebuah jam pasir ditangannya. Ia paling benci menghadapi bangsawan saingannya. “Memang seperti itu, Mr. Anomaly”

“Jadi saya rasa Mr. Meitzent bertanggungjawab atas kaburnya penyihir tawanan kita. Zalabyx mendapatkan surat ancaman, namun Mr. Meitzent terkesan menutup-nutupinya. Bahkan ia tidak meminta bantuan.”

Zahel menulikan telinganya. Ia malas menyahuti semua tanya dari para anggota petemuan. Walau ia sudah di katakan ‘bersih’ oleh Raja Zalabyx, namun tameng ‘mencurigakan’ masih bisa melekat di dahinya.

“Mr. Anomaly benar. Saya mendengarnya juga dari salah seorang bawahan saya.” Velveta Kokou dari keluarga Kokou bersuara untuk pertamakalinya dalam sejam pertama pertemuan.
“Lagipula, tahanan yang lepas bisa saja menyebar segala hal tentang Zalabyx.”

“Kalau begitu, Mr. Falcony Anomaly. Saya harap Anda bisa menyelesaikan masalah ini.” Raja Zalabyx terlihat santai mengatakannya. Tidak seperti Razel yang terlihat menolak dari raut wajahnya.

“Dengan senang hati…”

“Saya menolaknya. Saya yang akan menyelesaikannya.” Razel menolak, tegas.

“Mr. Meitzent, silahkan duduk kembali.” Dewan penyelenggara menegaskan kata ‘duduk’ sebagai penolakan pendapat. Perintah raja adalah absolute.

“Tch.”

Razel benci. Ia makin benci saat melihat senyum Falcony yang penuh akan kemenangan.

TBC

0 komentar:

Posting Komentar

© Copyright 2011 Denden Template design by D2S
Diberdayakan oleh Blogger.