Minggu, 06 November 2011

Rain Stops, Good-Bye (Song Story - One Shot)

Terinspirasi dari lagu 'Rain Stops, Good-Bye' by Hatsune Miku.

Dibuat berdasarkan Request Madena Hawa Dattebayo

Story by Sazaela

---------------------------------------------------------------------------------

Aku berdiri di bawah rinai hujan. Diam aku memandang rinai hujan di luar payungku. Genangan air membasuh kakiku yang hanya berbalut sandal kulit tipis. Merapatkan jaket, aku menarik nafas dalam. Bau hujan mengiringi oksigen yang masuk ke paru-paru.

Angin berhembus. Titik-titik air berhasil meraihku dalam dinginnya hujan. Aku berdiri di jalanan, memandang kosong ke arah jembatan di seberang jalan. Menantinya.

Sebuah mobil berlalu, kupandangi mobil silver yang berjalan menembus rinai hujan. Seorang lelaki menyetir mobil tersebut dengan santai. Aku terus memandangnya hingga mobil itu berlalu di tikungan. Dan saat kusadari, sosoknya sudah berdiri di seberang jalanan.

Aku tersenyum. Memaksa. Aku menginginkannya segera mendatangiku… Sekaligus aku tidak ingin dia mendatangiku. Dalam keraguan aku menatapnya.

Aku mohon, jangan menyebrangi jalanan. Tetaplah berdiri di ujung jembatan. Hey… Tertawalah seperti biasa, aku mohon. Jangan pasang wajah yang membuatku ingin berlari menjauh.

“Ian…”

Aku diam, aku tak mau menjawabnya. Ia berjalan mendekatiku. Baru kusadari bahwa sosoknya tidak terlindungi hujan.

“Maafkan aku.”

Jangan, jangan mendekatiku. Jangan mendekatiku. Jangan…

Jangan menciumku. Jangan membelai rambutku. Jangan menatapku. Jangan tersenyum dengan tampang bodoh seperti itu. Aku tidak butuh tampang konyolmu!

Aku menarik kerah kemejanya. Kembali mempertemukan bibir kami dalam kelembutan. Kubuang payung abu-abu yang sedari tadi setia menemaniku. Kubuang ke sembarang arah.

Bibir kami bertemu. Saat itu juga kurasakan jarum-jarum air menusukku. Dingin… Dingin, sedingin dirimu.

-

While thinking that it is troublesome

You kissed me

The rain which doesn't stop calling is calm

I closed an umbrella, and two people got wet

-

Ian… Jangan mengkhianati pikiranmu! Kau tidak menginginkan hal ini!

Aku mendorongnya menjauh.

-

It stops raining, you will also

I turned away to walk

Without your saying to anything

I say nothing in particular, too

-

Ia diam. Dalam rinai hujan kami terdiam.

“Kau tahu, hubungan kita…” diamlah… “Tidak bisa kita—“ aku tidak mendengarnya, “harus berakhir.”

Aku tak mendengar apapun. Aku tidak mendengarkannya mengatakan kalau hubunganku dengannya sudah berakhir. Aku tidak mendengarnya, aku tidak menginginkannya.

-

This voice for just a little more

It wants to be held

I love you?

Now some lips stopped

The thought that cried

Surely with the rain

Flowing into a drainage ditch

How wonderful

Even if I am in tune with a song

Reach

-

Aku mungkin menangis. Mungkin. Aku tidak merasakannya karena hujan telah meleburkan air mataku. Seluruh tubuhku penuh dengan air mata.

Hujan ini pun… Air mataku.

Kami masih bergulat dengan pikiran kami. Dia sama sekali tidak mengatakan apapun lagi.

Hujan berhenti. Airmataku sudah habis. Tertelan bumi.

“Aku harap, kita bisa bahagia dengan jalan kita sendiri.”

Dia berbalik menauhiku. Jangan pergi. Aku mohon.

“Fisna…” Bibirku membiru, mengucap namanya pelan. Sepelan apa yang tidak bisa ia dengar. Ia menghilang di balik jembatan.

Mata hitamku memandang langit kelabu. Dingin… Sangat dingin mematikan rasa di kulitku. Aku tidak bisa mendengar apapun. Aku tidak bisa melihat apapun. Selain kenangan kita. Aku merasa buta.

Aku tidak bisa mengira waktu. Yang kutahu aku tersadar saat merasakan hangat matahari menyentuh kulitku. Membelai wajah pucatku. Angin hujan membelai rambutku yang sudah setengah kering. Aku tidak tahu sudah berapa mobil yang melewatiku. Aku tidak tahu kemana payungku berlari. Aku tidak tahu kalau bel sore di kota sudah berbunyi.

-

In the sun glaring down

I remember the pain

Till wet hair dries

I stood petrified here

Because [I am] reliable

I escape, and trip

When I fell down, I saw the sky

For cold rain

It was beaten without hating

I don't reach you

-

Aku berbalik, dan berjalan meninggalkan setengah nyawaku. Setengah ingatanku. Setengah kehidupanku.

Untuk seterusnya. Beberapa minggu kedepan, berbulan-bulan ke depan, bertahun-tahun kemudian. Hingga uban memenuhi kepalaku, aku tidak menghubungimu.

Dalam akhir ceritaku pun, aku tidak pernah menorehkan kata-kata ‘kita kembali bertemu’. Di saat nirwanaku pun, aku tidak pernah mengungkit namamu.

Tapi entah kenapa. Di akhir detak jantungku, aku merasa dituntun ke arah tempatmu berada. Percayalah, bahkan saat ragaku hancur melebur dalam tempat peristirahatan terakhirku. Jantungku masih berada di sampingmu.

-

The thought that cried

I turned away to walk

Flowing into a drainage ditch

How wonderful

Even if I am in tune with a song

Reach

On the day when green dances

On the day to be stained with red

[I'm] no longer next to you

But even so, certainly

A chest rustles

To the direction (one) where you are

0 komentar:

Posting Komentar

© Copyright 2011 Denden Template design by D2S
Diberdayakan oleh Blogger.