“Heh?! Pada udah tau belum ketua OSIS kita yang baru?”
“Eh? Udah keluar ya hasil pemilu kemarin?”
“Udah. Yang menang cowok yang wajahnya cantik itu, loh! Kalau gak salah namanya Zack Rhafiki.”
“Heh?! Bences itu ya?”
“Denger-denger peringkat 2 paralel setelah ketua Styx, ya?”
“Walau gitu kalau wajahnya kayak bencong sih sama aja boong! Mau apa sekolah kita nanti?”
“Pstt! Orangnya datang tuh!”
Rose and Bird
Chapter 1
Original story by Azalea
Za POV
Haduh… Lagi-lagi… Pagi gini kuping udah panas ngedengerin cicitan burung gaje. Pusing, deh! >.<
Aku berdehem pelan menyadarkan mereka akan keberadaanku yang berjalan mendekati mereka. Duh! Waktu ngelewati mereka itu loh, tatapan mereka tajam banget! Kayak mau telanjangin aku! o///o
Aku sok judes berjalan melewati mereka. Mau gimana lagi? Dari luar aku memang keliatan cowok judes sih! Biar aku sering salah dikira cewek. Hah… Wajahku cantik sih. XP
Mengenai obrolan tadi… Yup! Benar sekali, aku kemarin baru saja resmi menjadi ketua OSIS di sekolahku. Yah… mengejutkan juga sih. Aku aja nggak pernah mikir untuk jadi ketua OSIS (aku jujur lebih suka jadi bendahara), tapi mau gimana lagi kalau MPK (Majelis Perwakilan Kelas) udah mutusin. Ditambah hasil suaraku dalam pemilu yang jumlahnya lumayan. Fuh… Capek juga sih. >.<
Aku masuk ke kelasku. Ada beberapa teman yang mengucapkan selamat. Aku diem aja. Sebenernya bangga juga, cuman aku bingung mau bales apa jadi aku cuma balas seadanya. Anggukan atau gumaman? Uh… Wajah mereka kok aneh? Apa aku salah, ya?
“Pagi, Zahra…”
Zahra? Zahra itu panggilan akrabku. Kenapa aku dipanggil pake nama cewek? Entahlah, sejak masuk SMA panggilan itu sudah akrab di mulut teman-temanku. Katanya sih karena wajahku yang cantik.
o 3o
“Hn?” Aku menanggapi datar. Aku sibuk membuka-buka buku kimia. Huh… Gara-gara urusan kemarin-kemarin masalah pemilu aku jadi ketinggalan banyak materi. Walau otakku encer sih, tapi aku males kalo udah ketinggalan materi.
“Yaelah, udah jadi ketua OSIS masih aja sok jutek!”
“Apa sih, Rik?” Aku memandang tajam Riki, teman sebangkuku.
“PR.”
Aku menghela nafas. Pasti ujungnya sampe ke PR.
Aku melemparkan buku tugas matematiku sekenanya, “Jangan asal nyontek, Rik! Nyontek pinter, oh!” maksudku itu, Riki boleh aja menyontek tugasku tapi dia tetep mikir jawabannya.
“Oke, bos!”
Aku lanjut membuka-buka buku materi kimiaku. Hah… setelah otakku di jejal oleh gossip tadi, sekarang rasanya massa atom otakku bertambat. Berat. >.<
“Za, Styx manggil, tuh!” Susi, temen sekelasku berteriak dari arah pintu.
Aku memutar kedua bola mataku. Aku sih maunya si ketua MPK itu? Aku lagi males ngurus OSIS, nih. Keburu badmood!
“Apa?!” Aku berdiri di depan cowok yang bernama Styx. Rambutnya hitam berkilau (pake minyak, kali :p), kulitnya putih langsat (gila! Nih orang kayak nggak pernah kena matahari!), tingginya sekitar 170 pas sama badan propesionalnya (rajin ke gym, tuh!).
“Ckck… Jutek banget sih, ketos!”
Bodo! Liat wajahnya bikin moodku makin parah! Gah! Dia itu anak orang kaya, jadi nggak heran kalau kelakuannya itu kayak raja yang haus kekuasaan. Senyumnya itu, senyum orang gila! Ung… genit tepatnya!
“Nih!” Ia menyerahkan sebuah map merah, isinya keliatan banget tumpukan kertas yang tebelnya… Brr… DX
“Apaan?”
“Surat lamaran..” aku melotot.
“ Ya gak, lah! Ini isinya tentang program kerja OSIS tahun lalu. Pelajari isinya buat belajar.” Aku bergumam sambil menerima uluran map tersebut. Baik juga sih orang genit. “Ngomongnya apa?”
“Ha?” aku melongo. Ngomong apa nih orang?
“Hm?”
“Makasih!” Aku langsung membalikan badanku terus jalan ke tempat dudukku semula. Cuek aja sama tuh orang gila. Pergi, sono!
Drrttt… Drrttt…
Kurasakan hpku bergetar. Saat ku lihat layar ponselku, terpampang sebuah gambar surat. Pesan masuk.
From: Mommy
Hr ni plng cpet, y! Mo ada tmu! ;p
Love you.
Ih, Mommy tuh kalau sms ABG banget =.=a. Gak salah sih, biar umurnya udah hampir kepala empat, wajahnya masih keliatan kayak remaja. Bisa aja kecantikanku itu menurun dari Mommy.
Aku hanya membalas sekenanya, ‘ya, mom’. Kadang aku heran, Mommy gak pernah malu sama umur, ya? -w- Beda sama Daddy yang berwibawa banget. Dia sadar sama umur, jadi Daddy nggak pernah mau jalan bareng Mommy kalau Mommy pake baju yang aneh-aneh.
Aku udah bilang belum ya kalau Mommy kerja di bagian fashion? Khususnya aliran goth-loli. Itu loh, baju yang penuh renda… Warnanya item… atau pink… atau putih… Ukh! Rasanya aku jadi merinding kalau inget hal ini. Mom itu big-fun aliran goth-loli. Tauk tuh asalnya dari mana! Mommy buka butik online, namanya Bara House. Hampir tiap hari mommy dapet orderan. Toko mommy juga udah terkenal ke luar negri! XP
Kalau Daddy itu direktur di perusahaan kain, kosmetik, sama wig. Nah, pas ‘kan sama kerjanya Mommy? Kalau ada orderan, Mommy tinggal minta bahan ke pabriknya Daddy. Duh! Mau Mommy mau Daddy, kerjanya belit-belit benang mulu.
“Zahra~~” Aku merasa mual saat seorang gadis menggoyang-goyangkan badanku dengan brutal. Muntah… muntah.. “Mana catalog minggu ini?!!” maksudnya, catalog butik online mommy. Yah, denger-denger sih catalog mommy telat terbit, makanya dari kemarin mommy cerewet sama hp mulu. “Aku nungguin, nihhhh!!!!! >.<”
“Na—Nay… Ber-berhenti…”
“Ukh!!” dengan uring-uringan, gadis berambut pendek mengombak itu melepaskan cengkraman mautnya. “Aku mau liat desain baru mamamu! Cepet dong!” kok ngomelnya ke aku, sih? Ke Mommy dong… = 3=
“Tanya ke Mommy dong, Naya… Mana aku tahu urusan Mommy.” sebenernya tau sih, males aja aku ngomongnya.
“Aduh, Za~ Memang aku kuat ngobrol sama mamamu?!! Aku bisa nangis kesenengan denger suara mamamu!! Kyaa~” hah… Perlukah aku cerita ke Mommy kalau dia udah punya fans fanatik?
“Ya udah, Nay. Tunggu aja.” Riki tiba-tiba nyambung padahal gak ada kabel telepon. Duh, garing banget. Kayaknya dia udah selesai sama ritual ‘belajar’ paginya.
“Telat 3 hari, Riki!!!”
Uh… Mereka berisik sekali.
Bel penyelamatku berdendang sangat merdu (di telingaku). Akhirnya mereka berhenti ngomel dan kembali ke tempat duduk mereka.
--
“Dadah, Zah~ aku pulang dulu!”
“Hm..” aku melambaikan tanganku ke murid terakhir selain diriku yang menempati ruangan kelasku yang sudah sepi. Beberapa menit yang lalu bel pulang sekolah berbunyi. Nah, aku ini lagi sibuk sama tugas rumahku. Udah jadi kebiasaanku ngerjain pekerjaan rumah langsung setelah pulang sekolah, jadi di rumah aku nyante.
10 menit kemudian, aku sudah meninggalkan ruang kelasku. Di depan sekolah sudah ada mobil jemputanku. Aku masuk ke mobil tanpa bicara apapun ke supirku. Toh, dia juga udah tahu gaya irit bicaraku.
Memasuki kompleks perumahan elit, mobilku berhenti di depan pagar sebuah rumah yang di dominasi cat warna krem kekuningan. Pintu pagar terbuka, mobilku masuk dan berjalan sampai berhenti di depan pintu masuk.
Aku keluar mobil dan berjalan memasuki rumahku.
Saat aku masuk, rumah rasanya sepi banget. Mana Bi Deroh yang biasanya nyambut aku pulang? Lagian katanya ada tamu, kok nggak ada mobil yang parkir di halaman. Apa belum datang, ya?
“Mom? Dad? Bi Deroh? Bi Tinah?”
Sepi amat nih rumah. Aku akhirnya naik ke lantai dua tempat kamarku berada. Aku berjalan ke kanan setelah menghabiskan seluruh anak tangga. Tepat di depanku kini berdiri sebuah pintu dengan gantungan bertuliskan “Zack”.
Aku membuka daun pintu lalu memasuki kamarku. Aku membanting tasku ke sembarang tempat. Aku berjalan ke arah cermin yang bisa memantulkan seluruh tubuhku. Aku menyisir rambutku yang agak pirang jika tertimpa cahaya. Rambut pirangku itu katanya keturunan kakek yang asli Prancis.
Aku berjalan ke arah lemari mencari baju ganti. Aku memilih sebuah t-shirt putih polos dan sebuah celana pendek selutut. Uh… Jujur aja, celana panjang yang aku punya itu cuma celana sekolah. Lagian Mommy cuma beliin aku celana pendek. Mentang-mentang badanku mungil – 3-
Aku berbalik, niatnya sih mau tiduran. Capek nih badan. Tapi langkahku berhenti waktu aku tahu aku kalah cepat menempati kasurku. Hah? Nggak tahu apa maksudku? Maksudku, ADA ORANG NGGAK DIKENAL YANG TIDUR DI KASURKU!!!!! BUKAN! Aku kenal dia… Dia… Dia… SI GENIT?!!!!
“MOMMY!!!! DADDYYY!!!!”
Aku berteriak histeris! Ngeri! Ada orang genit nyasar ke kamarku? Jangan-jangan dia udah nggak waras masuk ke kamarku! Tapi, tapi, tapi, bukan itu yang aku panikin! NGAPAI DIA DI SINI?!!!
“ADA APA, DEAR?!!!”
Mommy masuk ke kamarku dengan wajah yang nggak kalah panik. Ngeri, aku menunjuk ke arah si cowok genit, Styx si ketua MPK yang kayaknya udah bangun dari tidurnya. Dan aku baru nyadar kalau ia masih pake baju sekolah.
“Yaelah, Za… Mommy kira apa… Kalau Styx mau tidur, di ruang tamu aja. Aduh, maaf, ya, tante sampai lupa kamu ada di sini.”
Ha? Ha? Mommy kenal si genit?
“Kenapa dia ada di sini, Mom?!!” teriakku masih histeris. Aku tatap Styx yang masih mengucek matanya setengah sadar.
“Mommy kan bilang mau ada tamu. Temennya Daddy, lagi ada di kebun. Styx anak temen Daddy.”
Aku shock. Ih, Daddy gila temenan sama orang yang punya anak kayak gini. Uh, bukan maksud bilang kalau papanya Styx itu sama genitnya sama tuh orang. Tapi buah nggak jatuh jauh dari pohonnya, ‘kan? Berarti pohon nggak jauh berdiri di samping jatuhnya buah. Uh, ngaco deh.
“Oh, tante… Maaf aku ketiduran. Oh… halo Za.”
Aku merengut.
“Tidur di kamar tamu aja, sana!”
“Hush! Jangan ngusir dong, Za!”
Bodo! Aku nggak mau liat senyum anehnya.
“Nggak apa tante. Makasih, aku udah nggak ngantuk lagi, kok.”
“Eh? Gitu, ya. Kalian satu sekolah, ‘kan? Kenal dong?”
Hih! Mommy kok tanyanya gitu sih?!
“Kenal dong, tante! Zack kan ketua OSIS, nah aku ketua MPK. Jelas kenal.”
“Eh? Za ketua OSIS? Kok nggak cerita ke tante?”
Ngapain cerita? Paling ntar jadi bahan pamer ke temen-temen Daddy ma Mommy. Aku deh yang malu 0 30.
“Za baru jadi ketua OSIS kemarin kok, Mom.” Aku merengut. Woi… kapan nih orang dikeluarin dari kamar.
“Hoh… Yah! Karena udah lengkap—“
Lengkap? Apanya?
Secara nggak sadar, aku dan Styx saling memandang heran. Kayaknya dia sama-sama gak tahu apa maksud perkataan mommy. Lengkap apanya, sih?
“Saatnya ‘kerja’, Dear…”
Kerja? Kerja ap—
“HAH?!!! ‘KERJA’?!!! KERJA ITU—“ Aku menatap horror ke Styx. Dengan gaya kaku aku menunjuk Styx, lalu aku, lalu ke dia lagi, begitu seterusnya.
“Yup! Saatnya kalian ‘kerja’.”
- TBC

0 komentar:
Posting Komentar