Minggu, 06 November 2011

Rose And Bird (Chap. 2)

Rose and Bird

Chapter 2

Original story by Azalea

“Puh—“

Aku memberikan pandangan paling mengerikan yang bisa aku keluarkan ke Styx yang memegang perutnya menahan tawa.

“Jadi— jadi— kau—“

Grr… Dia bener-bener pengin aku bunuh, ya? Awas, kau genit!

“Shut up!”

“Puh! Duh! — gak nyangka, kau yang jutek bisa, bisa, bisa— baah!!” kali ini dia menuntup mulutnya. Badannya sampai bergetar hebat menahan tawa. Sial!

“Udah! Nggak usah liat lagi!” Aku merampas sebuah catalog cetakan dari tangannya kemudian aku buang ke sembarang arah. Nyebelin!!! >.<

“Kau! Kau! —“ dia terus tertawa sambil menunjuk catalog yang isinya foto seorang gadis berambut pirang yang memakain pakaian khas goth-loli.

“Kau — dengan baju perempu— gyahaha—...” tawanya berlanjut menggenaskan.

Yah. Malas mengakui. Tapi ini kenyataan. Wajah cantikku telah dimanfaatkan ibu kandungku!! Dengan senaknya dia menjadikkanku model catalog Bara Shop. Dan itu artinya, aku harus pakai baju perempuan yang berenda-renda, wig, make up, de el el.

Kenapa aku mau ngelakuin kerjaan malu-maluin gini? Ini demi laptop baru!! Aku mau laptop baru! >.< Dan Mommy nggak tanggung-tanggung ngasih syaratnya! Aku harus jadi model butiknya. Dengan cara yang sama pula aku mendapatkan PS 3, HP baru, tablet, piano akustik, dan uang sakuku selama 1 bulan! Penyiksaan! Masa aku harus kerja demi dapet uang saku?!!

“Taraa!!!” Mommy tiba-tiba datang dari balik lemari (lebih bisa dibilang kamar khusus koleksi pakaian Mommy) dengan meneteng 2 stel baju. 1 stel baju cewek yang modelnya sudah akrab dimataku. Baju lainnya adalah baju yang baru pertama kali aku lihat. Baju cowok.

“Mommy mau ganti suasana! Akhir-akhir ini banyak pesanan baju cowok, jadi Mommy mau buat perubahan di butik Mommy.”

Yes! Berarti aku bisa pakai baju cowok!

“Nah, sekarang di coba, ya!”

Mommy kemudian kasih baju cowok ke Styx dan menyodorkan baju ceweknya ke aku. Lah, kok? Kok? Kok? KOK?!!!

“Mommy sengaja minta Styx ke sini buat jadi model cowoknya. Duh, Styx ganteng, deh! Kayaknya pas sama bayangan Mommy!”

“Mommy! Kenapa aku tetep pake baju cewek?!!” Aku teriak protes. Aku nggak mau kalau ada rambut nyangkut di kepalaku lagi(wig), apalagi kalau harus ada rambut tempelan di bulu mataku (bulu mata palsu).

“Aduh, Za, Mommy kira kamu mau CD limited edition—“

“Oke! Tapi janji beliin!” Aku nggak mau ngeluarin uang tabunganku buat CD limited Edition band favoritku yang harganya selangit. Secara, limited edition, loh! Katanya sih cuma ada 100 kopi, gak tau bajakannya ada berapa.

Sambil menghentakan kaki, aku memasuki sebuah kamar ganti di kamar khusus koleksi pakaian mommy. Dengan malas aku memakai baju penuh renda yang menggembung. Parahnya kali ini pahaku terekspos banget. Apa, sih, maunya mommy?!! Tinggal sewa mo— oke, oke, aku emang pengin CD limited editionnya. Demi CD, ya…

Hah, aku jadi inget pertama aku pake baju macam ini. Susahnya minta ampun! Ada celana pendek dalaman, ada baju atasan, mana roknya dipasang pisah lagi! Repot banget! Apalagi kain keras yang bikin kulitku gatal.

Baju yang kupakai sekarang warnanya hitam diselingi warna biru muda. Tumben biru, biasanya mommy pake warna merah atau hitam.

Lengannya model balon warna biru muda dengan renda putih, atasannya biru agak tua yang diselimuti renda hitam dan kain hitam yang menutupi –ehem- dada sampai pinggangku. Roknya berwarna biru samudra dengan garis hitam. Aku keluar lemari.

Saat itu kulihat Mbak Lia yang biasa ngedandanin aku siap dengan kuas miliknya. Aku merengut.

“Siap?”

“Mau nggak mau harus siap.”

Aku harus terima ada rambut ngangkut di kepalaku dan di kelopak mataku. Pipiku diberi rona merah. Wajahku diberi sapuan bedak tapi nggak terlalu tebal, mommy sebenernya gak mau aku pake kosmetik banyak-banyak, takut wajahku jadi rusak. Duh, mommy!

Setelah itu aku memakai saputangan hitam dan sepatu boot hitam dengan tali berwarna biru dongker. Di ujung sepatu terpasang mawar biru. Wig pirangku dihiasi oleh sebuah topi mungil berwarna biru dongker dengan pita hitam yang melekat. Ada beberapa mawar menempel dan beberapa helai renda menjuntai hampir menutupi mata kananku yang dipasang soft lens merah sedangkan mata kiriku berwarna biru.

Kenapa sampai beda warna? Kata mommy biar jadi ciri khas Bara House. Mommy ada-ada aja! >.<

“Mbak, mata kananku perih.”

“Sabar aja, mas Za, emang perih kalau menit-menit pertama.”

“Uh…”

“Nah, mas Za, udah selese, nih. Ibu mas nunggu di ruang keluarga.”

Ngapain ke ruang keluarga?!! Masa aku mondar-mandir di dalam rumah pake baju ginian? Uh, memang di dalem rumah, sih, tapi ‘kan malu! >.<

Aku pasrah saja ke ruang keluarga. Di sana ternyata sudah ada mommy yang lagi ngobrol sama orang asing. Gak tahu siapa, rambutnya pirang. Pake baju hitam dengan corak yang mirip sama gaunku. Dia juga pake topi kecil di kepalanya. Um… Mata kami bertemu. Aku dan dia sama-sama kaget. Ternyata matanya juga beda warna, kanan merah terus kiri biru— tunggu! Jangan-jangan…

“Ah! Za~ Pas, 'kan? Mommy coba pendekin roknya. Rok pendek lebih banyak yang pesen, sih XP. Mommy panggil fotografernya dulu, ya!” kemudian mommy ngilang nggak tahu kemana. Aku memandang ngeri ke Styx yang berubah 180 derajat. Sumpah! Kerennnnn!!! >.< Aku juga pengin pake baju kayak Styx! Styx ganteng banget! Eh, apa? Ganteng? Gak! Cantikkan gue! Eh? Kok malah cantik, sih? Gak tahu, ah!

Aku berjalan menuju sofa samping Styx berdiri. Dengan cuek aku melewatinya. Ukh! Sepatu hak tingginya bikin kakiku sakit >.<. Mommy tega banget sih nyiksa anak kandungnya gini?! DX

“Kenapa? Mau ketawa?” Aku mandang sinis ke tubuh Styx yang bergetar. Ukh! Malu! >.< Baru pertama kali ada orang luar yang liat penampilanku kayak gini (kecuali fotografernya sama Mbak Lia).

“Gila! Buh— aku bener-bener ngira kamu cewek!” Styx dengan santai membanting dirinya ke sofa sampingku. Ia masih sesekali tertawa.

“Bla bla blah!”

“So— udah lama jadi korban mamamu?”

Aku merengut, ngapain dia tanya gituan? “Baru sekitar 10 katalog.” Aku menjawab judes.

“Kalau begitu kau beruntung nggak ada—belum ada yang tahu ‘hobi’ mingguanmu!” Aku mendengus.

“Aku nggak punya hobi ginian!” Aku nggak nyaman duduk. Kain kaku di antara pahaku bener-bener bikin aku nggak nyaman. Agh! Kemana sih, mommy?!!

“Hm… Apa jadinya, ya, kalau semuanya tahu ketua OSIS mereka adalah seorang crossdresser?”

“What— kau nggak serius, ‘kan?”

“Tentu saja, aku juga nggak mau nolak uang jajan mingguan tiap aku jadi model catalog tante.”

MOMMY!!! Ngapain pake model orang kayak giniii?!!!

“Baguslah kalau gitu.” Aku mendecih kesal. Mau dikemanakan wajahku kalau semua orang tahu kalau aku pernah difoto pakai baju cewek beberapa kali. Ah, aku bisa digebuki para fans butik mommy setelah tahu kalau mereka ‘ketipu’ sama model catalog yang ternyata COWOK!!

“Gimana, ya?” Styx dengan santai memainkan tongkat di tangannya. Ugh! Omongannya bikin aku pengin pukul kepalanya pake tongkat berselimut cat coklat kehitaman.

“Apa sih maumu?”

“Mauku? Hm…”

Hah?! Mau apa dia? Kenapa dia malah berdiri di depanku? Pake acara nunduk lagi. Tangan kanannya menyangga tubuhnya, sedangkan tangan kirinya membelai poni wig pirangku. Apaan sih dia? Cih, senyum genit itu lagi!

“Rasanya sayang kalau disia-siakan.”

“Apa?!”

“Kalau kau nggak mau semua tahu identitasmu, ada syaratnya.”

WHAT THE— Mommy! Help me!!!!

“A—apa syaratnya?”

“Huh? Serius kau tanya?” Aku mengangguk gugup. Ngapain sih dia pake belai bibirku segala. Bikin merinding tahu. Aku jadi pengin cubit bibir Styx yang masang senyum genit sampai melar.

“Oh…” secepat kilat ia menjilat bibirku yang diselimuti lipsgloss. Badanku mengkaku. “Kau harus jadi pacarku. Karena aku terlanjut ‘jatuh’ kepada sosokmu.”

WHAT?!!—

--

“Kyaa~ Zahraa~~ Kejutan~ Kejutann~”

Jengah. Aku jengah mendengar suara heboh Naya di telingaku saat aku memasuki ruang kelas.

“Jadi ini alasan katalognya telat terbit, ya? >.<" Naya memukul-pukul pipinya. Kenapa sih dia?

“Aduh! Bara House buka pesanan baju cowok! Aduh! Siapa sih model cowoknya? Ganteng banget! Model ceweknya juga cantik banget!”

Aku menghela nafas berat. Frustasi… Frustasi… Aku ingin menjedukkan kepalaku. Aku benar-benar akan melakukannya kalau aku lupa statusku di sekolah. Akan terlihat aneh kalau ada ketua OSIS yang menjedukkan kepalanya sendiri tanpa alasan.

“Kalau tidak salah nama ceweknya Bara, kalau cowoknya Finch. Bener, ‘kan? Bener? Zahraaa~ Kau tahu siapa mereka, ‘kan?” lagi-lagi, aku ‘diguncangkan’ oleh goyangan maut Naya. Aduh… Muntah… Muntah…

Aku nggak mau mikirin kejadian kemarin. Gak. Gak. Gak. Gak.

Drrttt… drrttt….

Sms. Aku ambil hpku lalu aku membuka pesan masuk.

From: Ketua MPK

Atap. Skrng.

Che. Ngapain juga? Bentar lagi kan bel masuk.

To: Si Genit (nama langsung diganti)

Krng krjaan lo!

Drrttt…. Drrrtttt…..

From: Si Genit

Atap. Skrang.

MOMMYYYY!!!!!!! BULLYINGGG!!!!

(eh, masa ketos di bullying?)

TbC (To be Continue)

0 komentar:

Posting Komentar

© Copyright 2011 Denden Template design by D2S
Diberdayakan oleh Blogger.