Mata hijaunya terbuka. Berkali-kali ia mengedipkan matanya
berusaha membiasakan pantulan cahaya matahari yang ditangkap retinanya. Ia
singkap selimutnya, lalu ia memposisikan tubuhnya menjadi duduk bersandar ke tembok
belakangnya. Ia menguap sekali membuat ada setitik air mata di mata hijau lumut
miliknya.
TAK—
Lagi-lagi ia mendengar suara yang sudah mengusik tidurnya.
Ia pandang pintu kaca balkon kamarnya. Tirai putih sudah terikat rapih di
pinggir pintu, mungkin kakak kembarnya yang melakukan itu. Ini hari minggu,
tidak heran kalau ia tidak dibangunkan.
TAK—
Mikuo tahu kalau itu suara batu yang di lemparkan ke
jendelanya, bahkan ia tahu siapa pelakunya. Karena itu ia sedikit malas untuk
bangun dari duduknya.
TAK—
Bagaimanapun juga Mikuo tidak mau mengorbankan kaca pintu
balkonnya. Kalau pelaku dibiarkan melakukan hal itu terus, bisa-bisa properti
miliknya bisa pecah.
Mikuo akhirnya memilih bangun. Ia mengusap matanya yang
berair sambil berjalan ke arah pintu balkon. Benar saja, ia menemukan sosok
tetangganya di balkon tepat di depan kamarnya. Pria dengan rambut nyentrik
berwarna pink itu melambai ke arah Mikuo dengan cengiran lebar di bibirnya.
Mata hijau lumut Mikuo menangkap 2 cangkir dengan kepulan asap yang di bawa
tetangganya, Luki.
Posisi rumah mereka memang saling membelakangi. Mikuo
tinggal di kompleks perumahan dengan tipe rumah yang sama persis dengan rumah
yang lain. Jadilah ia harus memiliki kamar yang tepat berhadapan dengan kamar
milik si rambut pink alias Luki. Jarak balkon mereka hanya sekitar kurang dari
setengah meter.
Mikuo berhenti tepat di balik pintu yang masih tertutup, ia
melirik sebuah kartu remi yang terjatuh di lantai dengan posisi horizontal.
“…”
Ia lalu membuka pintu balkonnya. Hawa dingin di pagi hari
langsung menyambutnya. Piyama tipis tidak bisa menahan hawa dingin untuk
menyentuh kulitnya. Sesekali angin berhembus di sela-sela rambut hijau miliknya.
“Yo!”
Mikuo hanya membalas salam pagi Luki dengan tangannya yang
di angkat. Ia berjalan ke ujung balkon, lalu menerima uluran cangkir yang ia
tahu berisi coklat panas. Hampir tiap minggu Luki memberinya coklat panas di
pagi hari. Katanya sih coklat baik untuk mengawali hari.
“Thanks.” Mikuo meresapi harum coklat panas. Hangat yang
diterimanya saat ia menggenggam cangkir berwarna merah itu agaknya sedikit
membuat dingin di tubuh Mikuo menghilang.
“Hari ini ada acara?” Luki tiba-tiba memecah keheningan.
Mikuo melirik Luki sebentar. Ia memposisikan dirinya bersandar di pagar besi,
memunggungi sosok Luki yang dengan damai menikmati coklat panasnya.
“Nee-San memintaku mengantarnya belanja. Kenapa?” Mikuo
menyisir rambutnya dengan satu jari, ia belum sempat merapikan rambutnya tadi.
“Hari ini Kaito ngajak hangout.”
“Oh…” sekali lagi, Mikuo mengecap rasa coklat yang membakar
lidahnya. Ia berpikir sebentar.
1 kartu remi yang ia lihat tadi, ia yakin semalam
meletakannya dalam posisi vertikal dengan kemiringan sekitar 30 derajat. Posisi
kartu itu bersandar di pintu balkonnya. Tidak ada celah di bawah pintu balkon
yang bisa membuat kartu itu jatuh akibat hembusan angin. Kemungkinan besar ada
yang membuka pintu balkonnya sehingga kartu itu kini ada dalam posisi
horizontal.
Kalau hal itu memang benar, berarti kecurigaannya selama
seminggu ini benar.
“Ngomong-ngomong…” Mikuo berusaha membuka percakapan di
antara mereka.
“Hmm?” Luki hanya menanggapi pelan, sepertinya dia masih
sibuk sendiri dengan coklat panasnya.
“Aku akhir-akhir ini bermimpi aneh tentangmu.” Mikuo masih
bersandar di pagar besi memunggungi sosok Luki. Dari pantulan kaca pintu, Ia
dapat melihat si pemilik mata biru itu kini berhenti meniupi coklat panasnya.
“Serius?” dari nadanya, sepertinya pria berambut pink ini
tertarik dengan arah pembicaraan Mikuo.
“Hn.”
“Mimpi apa?” Mikuo melihat Luki yang kembali meminum coklat
panasnya dengan pelan.
“Kau menciumku”
BUHH—!
“Akh! Panas!”
Kali ini Mikuo membalik badannya. Ia memandang miris ke arah
Luki yang sibuk mengelap coklat panas di sekitar mulutnya, noda coklat juga
berhasil mengotori kaos putihnya. Luki meletakkan cangkir kopinya di lantai,
lalu ia mengipas-kipasi dadanya yang kepanasan.
“…” Luki diam tak membalas. Mikuo menangkap gerakan gugup
Luki, juga usaha Luki untuk tidak menatapnya langsung.
“Aku bahkan curiga
kalau itu kenyataan” Pria berambut hijau itu berbicara dengan nada datar, sama
sekali menghiraukan sikap Luki yang mulai panic.
“Eh?”
“Pertama, kukira itu mimpi. Kedua kalinya, aku mulai curiga.
Ketiga kalinya, kau lupa menutup pintu. Keempat, kau sudah terkena perangkapku”
Mikuo kembali meminum coklat panasnya yang mulai dingin. Diam-diam ia mengulum
senyum saat melihat reaksi Luki yang terlihat terkejut.
“Anu…” Luki berdiri depat di depan Mikuo, ia garuk kepalanya
yang sebenarnya tidak gatal. “Kalau itu menganggu, akan aku hentikan.” Luki
sama sekali tidak berani memandang Mikuo. Perasaannya menjadi kacau saat ia
ketahuan melakukan hal yang bisa dibilang pelecehan seksual. Ia takut, ia takut
kalau setelah Mikuo tahu apa yang telah ia lakukan terhadapnya, ia akan
menjauhinya.
“Memang sudah seharusnya.” Mikuo membalas dingin.
Tapi Luki melakukan hal itu bukan karena tanpa alasan, kan?
Karenanya saat ia mendapat seaksi dingin Mikuo, ada luka di hatinya. Mikuo
menangkap luka itu dari wajah Luki yang tersenyum kecut. Mikuo pasti akan jijik
terhadapnya, jijik akan orientasi seksnya yang bisa dibilang beda dari orang
pada umumnya.
“Kau harus menghentikannya—“
“—Aku minta maaf” Luki menunduk. Keringat dingin sudah mengalir di
belakang kepalanya. Ia tak bisa membayangkan kalau ia dan Mikuo harus
benar-benar saling menjauh setelah ini. Hubungan persahabatan yang telah mereka
jalin sejak kecil runtuh begitu saja?
“Hh…” Mikuo menghela nafas, lalu ia melanjutkan perkataannya yang
tadi terpotong oleh permintaan maaf Luki. “Kau harus menghentikannya, karena
itu tidak adil.”
“Eh?”
Tiba-tiba suara bernada tinggi dengan frekuensi tidak normal
mengintrupsi obrolan pagi mereka. Mikuo menebak kalau itu suara Miku, kakak
kembarnya, yang memanggilnya dari luar kamar.
“Sebentar, Nee-San!” Mikuo balik berteriak.
Mikuo menatap Luki yang masih dalam keterkejutannya, sama sekali
tidak bergerak layaknya patung. Ia hanya bisa memutar bola matanya menghadapi
kelemotan tetangganya. Mikuo memilih membalikkan badannya dan mulai
meninggalkan Luki yang masih bengong.
“Thanks coklatnya, kau bisa ambil cangkirnya malam ini” Mikuo
masih saja meminum sisa coklat panasnya sambil berjalan. Tapi suara Luki
menghentikan gerakan kakinya.
“Anu Mikuo, sebenarnya 3 kali…”
“…”
“Mi-Chan?”
“Baka…”
Tertawa kecil, Mikuo menghilang ke kamarnya meninggalkan sosok
Luki yang melanjutkan acara minum coklatnya sambil tersenyum bahagia.
END
---
Missing
Scane
1st
time
Mikuo membuka matanya saat suara kakaknya tertangkap
pendengarannya. Matanya terasa sedikit sakit saat cahaya sinar matahari
memasuki retinanya secara tiba-tiba. Ia memposisikan dirinya dalam posisi duduk
dengan cepat. Ia pandang telapak tangannya dengan pandangan panik. Suara
kakaknya bahkan hanya di terima gendang telinganya.
Mukanya tiba-tiba rata dengan warna merah.
“Mi—mimpi apa aku?!”
2nd
time
Klap—
Mikuo dengan refleks membuka matanya. Ia angkat badannya. Ia lalu
menenggelamkan wajahnya dalam lekukan lututnya, menyembunyikan wajahnya yang
memerah. Ia sudah merasa dirinya seperti orang mesum yang bermimpi di cuim
sahabat terbaiknya.
Brak—
Ada suara dari arah balkonnya. Pencuri? Tapi hal itu mustahil
karena letaknya yang sulit di jangkau dari bawah. Atau mungkin tetangganya?
Mikuo berjalan ke arah pintu balkon. Dari sela tirai, ia sempat menangkap gerakan pintu
balkon tetangga di belakang rumahnya(di depan kamarnya).
Apa tadi Luki baru saja keluar dari kamar? Lalu, bukankah suara
yang membangunkannya itu suara pintu balkon kamarnya yang tertutup? Tanpa
sadar, ia sudah mengusap bibirnya sendiri.
3rd
time
“Ugh…” Mikuo melenguh tak nyaman saat merasakan sesuatu yang
menyentuh dahinya. Saat ia benar-benar menemukan kesadarannya, ia membuka
matanya. Ia hanya mendapati kehampaan kamarnya. Lalu ia membelak kaget.
“Oh, sial! Aku tertidur” Ia berencana untuk berpura-pura tidur malam
ini, ia penasaran dengan malam-malamnya yang terganggu beberapa hari yang lalu.
Apalagi pikiran mengerikan yang menghantuinya, ia mulai berpikir dirinya tidak waras dengan
menyukai sahabat masa kecilnya yang jelas-jelas berjenis kelamin sama
dengannya.
Tapi sayangnya ia malah tertidur.
Angin yang masuk ke dalam kamar bergulat dengan helai-helai
rambutnya. Mikuo tanpa sadar mengeratkan pelukannya ke selimut.
Tunggu, angin?
Mikuo memandang pintu balkonnya yang terbuka. Tirai putihnya
bergelombong tertiup angin malam yang dingin.
Ia lalu tertawa tertahan dalam keheningan malam itu.
4th
time
“Hm…”
Mikuo memandang kartu remi bergambar 6 buah hati yang ia letakkan
di pintu balkonnya dengan pandangan penuh harap. Lalu ia berjalan ke arah
kasurnya, bersiap untuk tidur. Sebelum tidur, ia berharap rencananya berhasil.
Tak butuh waktu lama untuk Mikuo dijemput alam bawah sadarnya.
Beberapa menit setelah Mikuo terlelap. Di luar sana, tepat di balkon
milik Mikuo, Luki berdiri kaku di depan pintu balkon. Ia tanpa ragu memasukkan
kunci yang sudah ia miliki selama 5 tahun itu ke dalam lubang kunci pintu
balkon Mikuo.
“Ini yang terakhir…” Luki
bergumam terhadap dirinya sendiri. Ia nyaris memasukkan kunci ke lubang kunci,
namun gerakannya terhenti sebentar. Pada akhirnya ia berhasil membuka pintu
balkon. Ia berlalu tanpa menyadari sebuah kartu yang sempat ia injak.
Sekarang ia sudah berdiri tepat di samping kasur Mikuo. Ia
memandangi wajah damai Mikuo yang terlelap. Ia sadar, prilakunya bisa
membuatnya masuk penjara. Tapi, hey! Bisa kalian bayangkan bagaimana perasaan
orang yang sudah memendam perasaannya selama lebih dari 4 tahun?! Itu
menyakitkan.
Luki tersenyum kecil. Jari-jari panjang miliknya ia biarkan
berkeliaran di rambut hijau Mikuo yang halus. Mikuo tampak tidak terganggu
dengan tindakan Luki, bahkan wajah Mikuo terlihat lebih rileks.
“Oyasumi, amai yume…”
Lalu ia memilih kembali ke kamarnya.

0 komentar:
Posting Komentar