“Mr. Meitzent”
Razel agaknya agak terkejut mendapati sebuah panggilan dari orang yang tak ia kenal. Namun ia tahu kalau sosok itu tidak akan menyerangnya, tepatnya karena pria itu memakai seragam besi dengan kenegaran Zalabyx. Mungkin salah satu pesuruh Shinny.
“Anda di tunggu.”
“Hn.”
Tanpa menengok ke belakang, Razel berjalan menuruni bukit. Menjauhi pedalaman hutan bambu.
Tak beberapa lama, ia kembali ke tempat desa yang kini benar-benar hanya tersisa arang saja. Razel memandang Shinny yang telah siap dengan kuda hitamnya, balik memandangnya.
“Darimana saja, kau?” Shinny bertanya kesal. Mungkin Razel memang terlalu lama pergi.
“Melakukan sesuatu yang menarik, mungkin?” Razel balas tersenyum sinis. Dia berjalan ke kuda coklat miliknya. Dengan sekali lompatan dia berhasil naik ke kursi kuda.
“Tidak ada bukti kau bersih dari kasus bebasnya beberapa penyihir, kau tahu Meitzent?”
Mata hijau Razel beradu dengan mata hitam Shinny dalam kegelapan. “Tak ada bukti pula kalau aku terlibat dalam kasus tersebut.”
“Tsk” Shinny hanya mendecih. Ia memacu kudanya dengan kecepatan sedang mendahului Razel, diikuti beberapa pasukannya yang berjalan kaki. Razel sengaja menjaga jarak dengan Shinny, ia tidak mau terlalu banyak berbicara dengan Shinny di saat posisinya dalam keadaan nyaris terpojok. Yah, dari awal dia memang sudah nyaris kehilangan kepercayaan.
Razel mengikuti barisan terakhir. Ia memacu kudanya dengan kecepatan layaknya orang yang berjalan kaki biasa. Ekor matanya masih saja mendapatkan pemandangan bukti sejarah pemukiman penyihir di tempat ini.
Razel terus memacu kudanya hingga ia menyebrangi sungai lebar, tentunya ia melewati sebuah jembatan. Ia tahu, di sinilah para mayat dibuang. Sesekali ia melihat dari kejauhan, mayat-mayat yang mengambang.
SRATT―
Kudanya mengikik kaget. Mata Razel menelusuri asal suara, dan ia dapati seorang pasukan yang telah menembakkan anak panahnya ke arah hutan. Mata Razel mengikuti arah pandangan beberapa prajurit, dan ia menemukan seorang anak kecil yang mengintip dari selah semak. Saat anak itu menyadari keberadaannya sudah di ketahui, anak tersebut kabur dari tempat persembunyiannya.
“Kejar, jangan ada yang kabur!” Razel meneriakkan komando. 5 orang prajurit melepaskan dirinya dari barisan, mengejar si anak yang dicurigai sebagai penyihir.
Razel mengikuti. Ia pacu kudanya menjauhi barisan. Kudanya berlari di depan ke-5 prajuritnya menembus hutan.
Tak berapa lama, terlihatlah tubuh mungil yang berlari di kejauhan. Razel mengencangkan kecepatan kudanya. Ia tarik pedang miliknya dari sarung pedang yang terikat di pinggangnya. Mengikuti irama kuda kesayangannya, Razel mencondongkan badannya.
Ia tarik tali pelana kiri kudanya, membuat kudanya berbalik arah. Kali ini ia memandang sini prajurit yang berlari ke arahnya. Sedikit tatapan bingung mendapati sosok Razel yang berbalik arah menghadap mereka.
5 orang. Razel tidak pernah meragukan kemampuannya dalam membela diri.
Sesuatu yang tidak dibayangkan kelima prajurit tersebut terjadi saat salah satu dari mereka tertusuk Zeiz milik Razel.
“Mr. Meitzent, Anda―”
Razel diam tak menjawab.
Dalam waktu kurang dari 5 menit, ia berhasil membunuh bawahannya. Dari sudut matanya, ia masih melihat anak kecil yang mereka kejar itu bersembunyi di balik pohon tak jauh darinya.
“Pergilan, cari sebangsamu. Jangan ceritakan ini kepada siapapun bahkan jika nyawamu ada di ujung tanduk” Razel memandang tajam anak kecil tersebut. Beberapa detik kemudian, anak kecil tersebut berlari menjauhinya.
Razel menghela nafas berat, “Setidaknya aku menyelamatkan satu, Skyerin” Gumamnya dalam kesunyian.
Razel mengangkat pedangnya. Dengan penuh keyakinan, ia tebaskan pedangnya ke paha kirinya dan lengan kirinya. Sedikit menyrengit kesakitan, Razel mengelus kudanya pelan.
“Maafkan aku, setelah kita pulang kau akan kuobati.” Dengan penuh hati-hati, ia goreskan ujung pedangnya ke leher kuda miliknya. Lukanya tak dalam, tapi cukup untuk membuat kuda miliknya mengeluarkan darah. Terdengar kikikan tertahan, Razel sedikit tersenyum mendapati kudanya hanya diam menurut.
Kemudian ia kembali memacu kudanya kembali menuju kelompok barisan. Dengan penampilan seperti ini, tidak akan ada yang mencurigainya kembali ke kelompok tanpa membawa kelima prajurit yang baru saja ia bunuh. Dengan alasan perlawanan dari penyihir, ia bisa mengelak.

0 komentar:
Posting Komentar