Minggu, 06 November 2011

Her Son in Zalabyx (Chap.3)

Seharusnya ini menjadi pagi yang damai seperti pagi yang biasanya di kediaman Meitzent. Harusnya. Sayang fakta ‘pagi yang damai’ tidak bisa dibuktikan pagi ini, karena kediaman Meinzent sudah ramai oleh teriakan gadis kecil.

“Razelllll!!!”

Membanting bukunya, Razel berjalan tak sabar menuju keponakan jauhnya yang baru datang semalam dari negri sebrang. Kalau ibu dari anak tersebut bukanlah kakak kesayangan dari suami kakak perempuan pertamanya, ia tidak akan mau menampung gadis cilik nan lincah tersebut di kediamannya. Tidak, tidak dengan suara cempreng yang mengganggu waktu istirahatnya.

“Tamara! Sudah aku katakan, jangan. Berisik!”

Beberapa maid yang ditugasi menjaga si putrid mungil itu meringkuk ngeri. Tamara sendiri malah asik mengerucutkan bibirnya.

“Tapi, Razel! Maidmu melarangku masuk ke perpustakaan!” Gadis berambut kepirangan itu menunjuk ringkih kea rah sebuah pintu yang tertutup rapat tepat di sampingnya. Razel melirik maid-maid yang menatapnya penuh permohonan maaf, kemudian ia kembali menatap sis umber masalah.

“2 tempat yang tak boleh kau masuki. Perpustakaan dan ruang bawah tanah!” Setelah mengatakan itu, Razel berbalik kembali ke ruang kerjanya. Sedangkan gadis berbalut piyama cream itu menggerutu diiringi kalimat, ‘Tapi aku ingin baca…’.

Tamara, gadis dengan rambut keemasan warisan gen sang ayah, ia berumur 11 tahun. Hobinya ya, itu… Baca. Bagus, sih bagus. Tapi saking maniaknya gadis kecil itu dengan buku (apalagi buku tebal, berdebu, sampul sobek, lembaran kecoklatan), ia sama sekali tidak bisa memilih mana bacaan yang tepat untuk anak seumurannya. Kalau saja Razel membiarkannya memasuki perpustakaannya, Razel pastikan gadis itu sudah bukan lagi warga Negara yang ‘biasa’.

--

“Razel?”

Razel membuka matanya. Nyaris saja ia jatuh ke dalam dunia mimpi kalau ia tidak mendengar suara gadis cilik yang sudah membuatnya frustasi seharian.

“…”

“Kau tidak melarangku memasuki kamarmu.” Suara Tamara terdengar lirih. Razel melirik luar jendela, malam ini hujan turun sangat lebat. Sesekali kilat terlihat walau tanpa suara. Mungkin karena ini Tamara yang lincah jadi terlihat ketakutan.

“Ada apa?”

“Boleh aku tidur bersamamu?”

“…”

“Mama dan Papa selalu menemaniku tidur saat hujan turun dengan

“Baiklah” Razel tenggelam dalam kebisuan saat merasakan Tamara menaikki kasurnya. Bukan sekali ini Tamara dititipkan di mansionnya, bukan sekali ini juga Tamara tidur di kasurnya. Jika Razel ditanyai apakah ia pernah membawa seorang gadis ke dalam kamarnya, ia hanya akan menjawab anak berumur 11 tahunlah yang pernah masuk ke kamarnya. Hanya Tamara seorang. (bahkan Razel tidak pernah memperbolehkan kakak-kakak perempuannya masuk ke kamarnya).

Tamara memeluk selimut sutra, ia tidur menyamping memunggungi Razel. Entah kenapa, kantuk Razel hilang begitu saja. Mungkin setelah Tamara tertidur, ia akan pergi ke perpustakaan.

“Razel, kau bangun?”

“Hm?”

“Jangan bilang ini ke siapapun, termasuk ke mama.”

“…” Razel tidak menjawab, ia lebih memilih membuka sebuah buku yang ia sembunyikan di balik bantalnya. Ehm… Sekedar info, itu bukanlah buku porno, apalagi buku diari.

“Aku bertemu penyihir.”

Razel menghentikan gerakan matanya tepat di kata ‘sihir’.

“Seorang anak kecil yang tersesat di hutan, kemarin saat aku sempat kabur dari kereta kuda.”

Razel memutar kedua bolamatanya. Tak heran ia mendapati keponakannya itu kabur dari penjagaan pengawal. Sekali bocah, tetap saja bocah.

“Razel… Anak itu bilang, ‘Kami tidak salah apa-apa, tapi kenapa keberadaan kami dianggap suatu kesalahan?’.”

Razel menutup bukunya, meletakkannya ke sebuah meja kecil di samping ranjang. Ia usap puncuk kepala Tamara dengan lembut. “Tidurlah, besok kau akan dijemput pagi-pagi.”

“Razel.” Tamara membalikkan badannya, mata hijau gioknya menatap Razel intensif. “Aku tahu ini salah, tapi bolehkan aku berharap aku bisa bermain dengan penyihir?”

Razel diam. Ia tidak bisa menjawab. Tepatnya, ia tidak perlu menjawab pertanyan ambigu yang sudah diketahui jawabannya oleh si penanya. Dalam diamnya, dia tetap mengelus rambut Tamara yang digerai.

“Selamat tidur, mimpi indah

“Selamat tidur, Razel”

Semoga harapanmu menjadi kenyataan.

TBC

0 komentar:

Posting Komentar

© Copyright 2011 Denden Template design by D2S
Diberdayakan oleh Blogger.