Trak―
Razel meletakkan cangkir tehnya dengan lembut. Masih mengecap rasa teh di lidahnya. Bertopang dagu, ia memandang datar ke arah cangkirnya yang mengepulkan asap. Dengan malas ia putar-putar sendok mungil di cairan kehijauan, teh segar yang diambil dari gunung sebelah Selatan Zalabyx.
“Mr. Moineau.”
Inilah factor yang membuatnya malas menghadiri acara pesta minum teh kerajaan. Kehadiran seorang Shinny Anomaly di depannya mampu membuat nafsu makannya hilang. Yang ia yakini, duduk bersamanya akan berjung pada percakapan saling menekan kelemahan dan kekuatan.
“Hn?”
“Kau tidak bertanya perihal si penyihir mungil itu?” Shinny memakan potongan cake fluffyberries miliknya dengan santai.
“Maksudmu?” Razel berpura-pura melupakannya. Padahal kenyataannya ia tidak pernah bisa melupakannya, barang semenitpun.
“Kau benar-benar lupa atau pura-pura lupa?”
Razel tak menjawab. Ia lebih memilih membuang pandangannya kearah taman labirin yang dipenuhi oleh beberapa bangsawan bernyali besar, mencoba memasuki labirin yang Razel tahu hanya beberapa orang yang berhasil keluar dari mulut pintu lainnya.
“Skyerin Moineau.”
“Hn.”
“Fuh, kau sama sekali tidak bereaksi, ya? Padahal ada berita menyegarkan yang bahkan membuat raja senang.”
Sepertinya arah pembicaraan kali ini adalah suatu pertanda buruk. Razel melirikkan matanya, sekedar menunjukkan kalau ia mulai tertarik.
“Kami menemukan persembunyian penyihir” Terlihat Shinny yang terkekeh puas akan reaksi Razel. Bangsa penyihir sangatlah langka ditemukan, bahkan dalam kurun waktu 10 tahun hanya ada 2 titik yang ditemukan. Atau bahkan tidak samasekali.
“Anak buahku melihat Skyerin di hutan bambu Pedalaman Alact, naïf sekali mereka sembunyi di tempat yang dekat dengan kita.”
Hutan bambu. Semoga saja bukan hutan bambu yang pernah ia temui dalam ilusinya.
“Lalu, apa pergerakan kalian?” Razel bertanya.
“Apalagi?”
Sudah Razel duga, hanya ada 1 pilihan. Pembasmian.
“Kapan?”
Shinny menyipitkan mata hitamnya. Seringi terlukis di kedua belah bibir Kecoklatannya. “Untuk apa kau tahu? Kau bukan bagian dari penyerangan.”
“Setidaknya pastikan pasukanmu cukup banyak untuk melawan mereka.” Razel mengelakkan Shinny.
“Huh, mereka memang kuat. Tapi mereka bodoh. Kau tahu? Tanpa tongkat sihir mereka hanyalah manusia yang tidak bisa melawan, kita unggul dalam senjata sumber daya manusia.”
“Kuharap begitu.”
“Kau meragukan pasukanku?” Shinny terlihat mulai jengkel.
“Tidak, tapi aku meragukan fakta ‘penyihir itu bodoh’” Razel duduk bersandar di kursinya. Ia sisir rambut merahnya.
“Fuh. Kalaupun mereka pintar, mereka tak akan sepintar strategi pasukanku.”
Razel berdiri dari duduknya. Matanya memandang sinis ke arah Shinny yang memutar-mutar sendoknya dengan asal.
“Kau mau pulang?”
“Hn.”
Razel membalikkan badannya. Nyaris saja ia pergi jika tidak ada sebuah suara yang menghentikkan pergerakannya.
“Besok malam, saat mereka terlelap. Kurasa masih ada 1 tempat untukmu.”
Razel meneruskan jalannya tanpa menoleh sedikitpun. Ia melangkah menjauhi taman tempat penyelenggaraan pesta minum teh. Tatapannya menerawang.
‘Kau ada di pihak mana?’
“Tsk.”

0 komentar:
Posting Komentar