Sabtu, 12 November 2011

Her Son in Zalabyx (Chap.6)

Razel menendang sebuah kayu yang memerah terbakar api. Sepatunya menginjak sebuah kain sobek yang kotor oleh lumpur.

Malam petaka kembali terjadi bagi para bangsa penyihir.

Naas. Razel memandang pemandangan desa yang baru saja diratakan oleh bara api oleh manusia. Razel menapali jalan setapak yang sudah tak jelas lagi. Ia pandangi beberapa pasukan yang masih bersliweran, berpatroli kalau-kalau masih ada penyihir yang tersisia di titik yang baru saja menjalani ‘pembasmian’.

Dalam hati kecilnya, razel sidikit berharap menemukan tanda-tanda keberadaan Skyerin. Bahkan tanpa ia sadari, ia menginginkan keselamatan Skyerin

“Setengah jam lagi kita kembali.” Shinny berjalan mendekatinya dengan senyum puas. “Bagaimana? Kau tidak kecewa, ‘kan?”

“Hn.” Mata Razel memandang gelap hutan bambu di ujung bukit. Angin malam mengembuskan rambutnya dengan tenang. Wajahnya kemerahan diterpa bara api yang menyala.

“Well, sebenarnya Skyerin tidak ada dalam deret mayat yang dibuang ke sungai.” Shinny berkata tenang.

Razel menatapnya. Senyum kecil mengambang di bibirnya. Tentu saja, si burung pipit tidak akan bisa ditangkap dengan mudah. Ia tahu, ia yakin hal itu.

“Kau tersenyum, ada yang menyenangkanmu?” Shinny berkata ketus.

“Ya, Aku rasa tugasmu belum selesai” Razel memperbaiki letap pedangnya.

Sebuah rumah yang terbuat dari kayu yang hanya tinggal kerangka terjatuh tak jauh dari mereka. Menimbukan suara berisik yang membangkitkan gairah para hewan malam untuk mencari makanan. Kepulan debu menyembul membuat bebrapa prajurit terbatuk.

“Cih, setidaknya aku berhasil membasmi satu titik, kan?”

“Hmm… Tidak juga, masih banyak yang lolos.”

Razel menatap mayat anak kecil yang di angkut para prajurit. Dadanya berdenyut. Sakit. Perutnya terasa kosong. Ia menatap nanar. Seakan-akan ia ingin mengucapkan, ‘maafkan aku’. Tidak, ia memang ingin mengatakannya.

“Kau sendiri, tak adakah kegiatanmu yang bisa membantuku selain bermalas-malasan di mansion, mu?”

“Hn…”

Razel malas menyauti pembelaan Shinny.

Mengikuti nalarnya, ia berjalan menuju kegelapan hutan. Hawa dingin menusuk seiiring ia jauh dari bekas pemukiman. Hutan yang dipenuhi oleh semak namun tertata. Ketara sekali ada yang merawat daerah sekitar.

Semakin dalam, jalan yang ia lalui menjadi jalan menanjak. Semakin pula pohon-pohon berubah menjadi bambu-bambu. Hawa yang sama seperti yang ia rasakan sejak terakhir kali ia menginjakan di hutan ini. Mungkin. Ia hanya menebak bahwa ilusinya dulu menuntun dirinya ke sini.

Dan benas saja. Menyudahi jalan setapak sampai di ujung bukit, ia tepat berdiri di tempat penghujung ilusinya. Dulu ia melihat pemandangan ‘kedamaian’, sekarang hanya ada ‘penderitaan’.

Sebuah gerakan meningkatkan kewaspadaannya. Ia membalikkan badannya dan memposisikan dirinya dalam pose siap menyerang. Sesaat hening menyelimutinya. Dengan perlahan ia berjalan kembali memasuki hutan.

Tenang. Suasana terlalu tenang bukankah menunjukkan ada hal yang salah?

Sebuah cahaya melesat ke arahnya. Razel menyingkir ke samping yang membuat cahaya kehijauan itu mengenai beberapa bambu, membuat mereka kehilangan tumpuan berdirinya.

Razel menarik Zeiz dari sarung pedangnya. Masih dalam posisi siapnya, ia berputar mengartisipasi serangan.

Kali ini sebuah bayangan hitam melesat menuju dirinya, ia berhasil mencondongkan badannya menghindari. Namun badannya terdorong kebelakang hingga menabrak batang bambu yang keras. Bayangan itu adalah manusiapenyihir, jika dugaan Razel benar.

“Busuk!”

Razel menunjukkan gelagat pasif saat ia melihat sebuah tongkat sihir teracung di depan matanya. Tubuhnya tersudut di antara bambu yang berjajar.

“Manusia busuk!”

Razel berhasil melihat wajah penyerang saat angin berhasil menyibak tudung hitam si penyerang. Rambut kebiruan, mata kanan yang tertutup penutup mata, mata kiri yang berwarna secoklat madu. Razel tetap pasif meresopon, selama Zaiz masih ada di genggamannya, ia berusaha mencari peluang untuk melepaskan diri.

“Aku tak percaya Sky mempercayai orang sepertimu.”

Sky? Apakah Razel mendengar nama Skyerin diucapkan lelaki yang menyerangnya? Atau ‘Sky’ disini berkonotasi beda dengan yang ia pikirkan?

Menemukan celah, ia mendorong lelaki tersebut hingga tubuhnya terjatuh. Dengan sekali sentak, Razel berhasil melempar tongkat sihir milik lelaki bermata madu itu. Kali ini gentian Razel yang mendesak posisinya. Ia acungkan pedangnya ke dada si lelaki. Sedikit ia mengakui perkataan Shinny yang mengatakan penyihir tanpa tongkat sihir hanyalah manusia biasa.

“Apa maksud perkataanmu.”

Lelaki itu tutup mulut. Ia sama sekali tidak bersuara. Razel memindahkan posisi ujung pedangnya ke leher, benar-benar menempelkan ujung pedangnya ke leher lelaki yang sepertinya sama sekali tidak ada niatan menjawab pertanyaannya.

Razel lengah. Sebuah angin kencang berhasil mengolengkan badannya ke samping. Ia tersentak saat merasakan sebuah lilitan di tungkainya. Ia sama sekali tidak bisa bergerak. Ia terkunci diantara batang bambu dengan tanaman yang melilit kaki dan tangannya. Ia memandang pedangnya yang terlempas jauh. Razel mendecih. Ia kini benar-benar terpojok.

Beberapa orang berjubah datang. 4 orang. Seorang membantu lelaki yang nyaris ia bunuh itu untuk berdiri. Lengkap sudah 5 orang tak dikenal berdiri di depannya.

“Tinggalkan kita.”

Suara Skyerin. Diantara kelima orang di depannya, tapi ia tidak bisa memastikan yang mana sosok Skyerin.

“Kau serius? Ray baru saja nyaris di bunuh.”

“Dia tidak akan berani macam-macam padaku.”

Skyerin berkata seakan-akan ia tahun segala hal tentang diri Razel. Razel tersenyum tipis.

“Kami menunggu di tempat biasa, Sky.”

Keempat orang lainnya kemudian menghilang diiringi hembus angin yang tenang namun cukup membuat daun-daun yang berguguran beterbangan.

Sosok terakhir mendekatinya. Tubuhnya pendek, tidak salah lagi dia adalah Skyerin.

Skerin berdiri tepat di depan Razel. Sekali tarik, tudungnya jatuh menampakkan wajah yang sangan dihapal Razel. Namun kali ini ada yang berbeda dengan wajah itu, pipinya bernoda darah.

“Bukan darahku.” Skyerin menatap tajam. Razel baru pertama kali mendapati tatapan Skyerin yang menusuk, seakan-akan menggambarkan amarah Skyerin yang sudah sampai ke ubun-ubun.

PLAK

“Sudah lama aku ingin merasakan gaya manusia mengeksekusikan amarahnya. Fuh.” Skyerin mengibas-ngibas telapak tangannya yang baru saja ia pakai untuk menampar pipi Razel. Razel meringis kesakitan, lalu ia terkekeh pelan.

“Kenapa tertawa?”

“’Dia tidak akan berani macam-macam padaku’, huh?” Razel mengangkat dagunya, menunjukkan kewibawaannya.

“Aku salah?” Skyerin menyilangkan dangannya di depan dada, wajahnya cemberut. “Kalau aku tidak mengatakan hal itu, kau sudah mereka bunuh.”

“Mereka teman yang pernah kau sebut?”

“Beberapa.”

“Oh, setidaknya aku tahu kau punya lebih dari 4 teman.”

“Huh, terserah kau.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Dingin malam mulai membuat Razel menggigil. Lagipula sepertinya ia sudah terlalu lama berpisah dengan kelompoknya.

“Cepatlah pergi, bisa saja ada yang menjemputku.”

“… kau membantuku kabur, ya?”

“Mungkin.”

“Hm…” Skyerin kembali memakai tudung yang berhasil menutupi identitasnya. Ia mengangkat bahu sekali, kemudian ia mulai berjalan menjauhi Razel.

“Moineau.” Skyerin berbalik, memandang Razel yang sama sekali tidak berubah dari posisinya sejak beberapa menit yang lalu.

“Soal ini…”

“Aku tahu ini bukan salahmu” Skyerin membalikkan badannya, ia diam untuk beberapa saat. “Tapi sejujurnya kami telah banyak kehilangan calon penerus, Meitzent.” Skyerin lalu kembali berjalan menjauh.

Saat tanaman yang melilit Razel lepas. Razel berlari mengejar sosok Skyerin yang sudah di telan kegelapan. Sykurlah Skyerin tidak jauh di depannya.

Skyerin agak kaget saat mendapati tangan kanannya di genggam Razel. Razel kemudian membalikkan badan Skyerin sehingga kini mereka saling berhadapan.

Razel memberikan kecupan ringan di bibir Skyerin. Untuk pertamakalinya dalam sekian kali pertemuannya dengan Razel, Skyerin merasa terkejut oleh kecupan tiba-tiba yang diberikan Razel.

“Maafkan aku, cepatlah pergi.” Sekali lagi Razel menempelkan bibirnya dengan bibir Skyerin, namun kali ini Razel sedikit memperdalam ciumannya.

Skyerin, masih dalam keterkejutnnya, memandang Razel yang berjalan menjauh. Hilang tertelan kegelapan.

“… Ap

TBC

0 komentar:

Posting Komentar

© Copyright 2011 Denden Template design by D2S
Diberdayakan oleh Blogger.