“Perasaanku saja atau… Sky memang berubah sejak ia kita tinggalkan dia bersama Meitzent?” Rey berbisik pada kembarannya yang baru saja menghabiskan sendok sup sarapannya.
“Kurasa aku sependapat denganmu.” Bisik Ray.
Mata cokalat madu keduanya memandang kea rah objek pembicaraannya yang sedang bermain-main dengan peri kecil.
“Maksud kalian?”
Mereka menatap tajam Justin, si-tidak-peka-lingkungan yang sedang asik meminum gelas madunya.
“Tidakkah kau sadar Sky sering melamun?”
“Atau berbicara sendiri?”
“Atau menggeleng-geleng sendiri?”
“Lalu ia tampak mengomeli dirinya sendiri?”
“Atau saat Sky menjadi ceroboh?”
“Kalian berlebihan” Lacie muncul dari dapur membawa sepiring makanan penutup.
“Kami tidak berlebihan―” Rey membantah.
“―Jelas Sky menjadi aneh” Ray menimbali.
“Akan kubunuh si Meitzent―” Rey menggigit kue kering yang masih hangat dengan gemas.
“―Kurasa itu bukan ide yang bagus, Rey. Sky akan membunuhmu duluan―” Ray mengikuti gerakan kakak kembarnya memakan kue jahe kering.
“―Yeah.”
Si objek pembicaraan di tengah sarapan akhirnya bergabung juga dengan mereka. Skyerin, dengan wajah cemberut, duduk di kursi kayu. Dengan asal ia mengambil kue kering. Nyaris saja ia menggigit kue kering itu kalau saja suara Justin tidak menginterupsi kegiatannya.
“Sejak kapan kau mau makan kue jahe, Sky?”
Skyerin melotot ke arah Lacie yang nyengir. “Sudah kubilang jangan ada kue jahe di pagi hari, Lact.”
“Hanya pagi ini, jahe baik untuk tubuh di saat hawa gerimis seperti sekarang.”
“Huh!”
“Justin payah―” Ray menahan tawanya.
“―Seharusnya kau tidak perlu mengatakannya ke Sky―” Rey juga menahan tawanya.
“―Sekali-kali kita lihat Sky yang memakan kue jahe.”
Rey dan Ray kemudian tertawa kecil. Mereka mengakui kalau mereka takut akan amukan Skyerin, karenanya mereka hanya tertawa kecil.
“Dasar, kalian itu!” Skyerin akhirnya memilih memakan sup jagungnya dalam diam.
Beberapa menit kemudian. Skyerin menyelesaikan sarapannya. Justin seperti biasa mencari bahan makanan di hutan. Lacie tampak membersihkan rumah dadakan mereka yang dibuat hanya dalam waktu 1 malam. Rey dan Ray menemani Skyerin yang sedang mencuci buah di sungai.
Skyerin berjalan di depan Ray dan Rey. Mereka hendak kembali ke tempat tinggal sementara mereka.
“Sky―” Ray dengan takut-takut melirik ke Skyerin yang hanya bergumam palan.
“―Boleh kami bertanya sesuatu?―” Rey mencolek pinggang Ray yang hanya di tanggapi dengan pelototan.
“―Meitzent melakukan sesuatu padamu?”
Skyerin sontak menghentikan gerakan kakinya. Matanya melotot kaget. Rey dan Ray saling pandang tak mengeri dengan tanggapan Skyerin yang diluar kebiasaan.
“Tidak.” Sedetik kemudian Skyerin kembali melangkah. Kali ini langkahnya dibuat lebar… dan cepat.
“Skyerin mencoba kabur dari kita, ya?” Rey berbisik di telinga Ray.
“Mungkin saja.” Ray balas berbisik.
Skerin meletakan bat berry yang ia temukan di hutan di atas meja. Ia kemudian menghilang di dalam kamar tanpa suara.
Lacie memberikan tatapan penuh Tanya ke Rey dan Ray yang baru saja masuk ke dalam rumah, sebenarnya tampak fisiknya lebih pantas di sebut ‘pondok’.
“Ada apa dengan Sky?”
“Kami hanya bertanya―” Ray mencomot berry kebiruan di meja makan.
“―Apa yang sudah dilakukan Meitzent padanya.” Rey duduk di kursi makan sambil menggigit buat pir.
“Kalian seius bertanya padanya?” Lacie mengerutkan keningnya.
“Ya.”
“Apa jawabannya?”
“’Tidak’―”
“―Pasti dia bohong.”
“Entahlah, mungkin aku sependapat dengan kalian.” Lacie menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia tertawa garing.
“Menurutmu―”
“―Apa yang dilakukan Meitzent padanya?”
“Entahlah, aku tidak berani menebak.”
“Hm…―” Ray mencoba berpikir.
“―Mungkin Meitzent ada di pihak kita?―” Rey menimpali.
“―Seharusnya Sky menjadi senang, bukannya aneh.” Ray menolak.
“ Mungkin Meitzent bukan ‘melakukan sesuatu’, tapi ‘mengatakan sesuatu’?” Lacie mengangkat bahunya saat ia mendapatkan tatapan Tanya.
“Mungkin―”
―BRAKK!!
Tampak sosok Skyerin yang baru saja menggebrak pintu, membuat mereka diam seribu bahasa. Rambut perak Skyerin tampak acak-acakan. Terlebih lagi yang membuat penghuni lain selain Skyerin terheran-heran adalah wajah Skyerin yang memerah hingga ke telinga dengan nafas yang tersengal. Mata hijau Skyerin menatap tajam ketiga sahabat penyihirnya.
“Hentikan obrolan kalian! A―Atau setidaknya cari tempat dimana aku tidak bisa mendengar kalian!!” Skyerin membentak sinis.
Ray dan Rey memandang Lacie yang tampak terkejut.
“Apa perlu kita tanya alasannya ke Meitzent langsung?” Rey dan Ray bertanya kompak ke Laci yang balas menatap mereka.
“Cukup! Aku mau mendinginkan kepalaku!” Skyerin lalu berjalan keluar, menghilang di balik pintu.
“Pernahkah Sky semerah itu?”
“Tidak.” Jawab si kembar kompak.
END

0 komentar:
Posting Komentar