“Rambutmu halus…”
“Ini kan Cuma wig.”
“Wangi…”
“Mommy kasih parfum dari Prancis.”
“Pinggangmu ramping, ya…”
“Kan korset…”
“Mungil. Pas di pelukanku”
“Mau kubunuh, ya?”
“…”
“…”
“…”
“Bisa lepas gak?”
“Nggak mau.”
Perempatan nadi muncul di dahiku. Nih orang bener-bener mau aku bunuh ya?
“Gimana aku bisa ngetik kalau kau memeluk pinggangku?” Cih, Styx sekarang memeluk pinggangku dari belakang. Kelakuannya gak jelas banget. “Dasar homo.” Aku mendengus kesal.
“Kata siapa aku homo, aku kan cuma suka sosokmu yang sekarang.”
“BERHENTI MENGGIGIT PIPIKU! DAN INI KARENA KAU YANG MEMAKSAKU PAKAI BAJU SEPERTI INI!!!!”
BRUAK!!
Sekali tendang, aku berhasil membuatnya terjungkal jatuh dari kasurku. Fuh, rasain tuh lantai!
Huh, pulang sekolah tadi tiba-tiba dia muncul di rumah. Mommy sih nggak masalah, dia malah bilang kalau Styx boleh dateng kapan aja. Buatku juga nggak masalah, ASAL! Aku nggak dipaksa pakai baju cewek! Parahnya, dia sudah ngerencanain ini dari awal! Dia udah telepon Mommy sebelumnya, jadi Mommy udah siapin gaun buat aku pake.
Mommy jahat… hiks… masa sehari-hari aku juga harus pakai baju gatel ginian? ;^;
“Duh, cewek kok galak.”
“AKU COWOK!” Ugh! Pengin aku mutalasi nih orang belagu! Sial. Sial. Sial.
“Ngetik apa sih?”
“Tugas Pak Rus.”
“Oh…”
Dia keluar kamarku. Gak tau mau kemana, lagian aku gak peduli dia mau kemana. Cih, kenapa sih Mommy nerima orang genit ke rumah gitu aja. Lagian aku baru tahu tadi kalau Styx panggil Mommy pake sebutan ‘mama’. Haduh… Mama jangan-jangan selingkuh sama papanya Styx? Oke aku Cuma bercanda. =^= Tapi serius, aku nggak mau pake gaun gini terus-terusan!!! >o<
Beberapa menit kemudian Styx masuk lagi ke kamar. Aku cuek waktu dia duduk di pinggir kasur di sampingku. “Es krim?” Aku lirik Styx, dia emang lagi pegang segelas es krim vanilla.
“Nggak, makasih. Kau niat ngabisin stok es krim ya?” Aku mendecih. Liat aja, dia udah ngabisin bergelas-gelas es krim. Kasihan Bi Tinah harus ngelayani orang genit kayak dia.
“Hm…? Tinggal beli lagi napa sih? Lagian Mama bilang suka-suka aku kok.”
Tuh kan, kok Styx akrab banget sama Mommy sih. Hiii~ >^<
“Up to you.”
Styx diem. Huh, aku baru tahu kalau dia itu ternyata maniak es krim. Atau akunya aja yang telat nyadar, emang sih dia sering beli es krim di sekolah. Tapi nggak kebayang orang genit kayak dia ternyata punya hobi makan es krim.
“Main yuk.”
“Main apa?” Aku nggak ngalihin perhatianku ke laptop didepanku. Huh… Kenapa harus ada tugas buat makalah sih. Nggak tahu aku sibuk, apa? Ketos gitu ;v.
“Keluar” Styx menjawab pendek.
“Ke?”
“Terserah kamu.”
Aku memejamkan mata kesal. Nih orang bener-bener ngajak ribut. “Nggak mau, sibuk. Main aja sendiri.”
“Aku maunya sama kamu.”
Duak—
Ah, rasanya kakiku tadi nendang sesuatu. Apa, ya?
“Duh, Za jahat.”
Air mata buaya deh… Dasar playboy genit! Ckckck… Aku cuek aja. Aku masih serius ngetik tugas. Tinggal ngetik bab penutup selesai sudah tugas hari ini! Hah~
“Ayo, Bara~ main yuk~”
Nih orang childish banget sih! Bara itu nama cewekku. Mommy seenaknya aja ngejadiin aku sama Styx icon butik mama. Sebell!! Lagian nama Styx keren, Finch. Namaku diambil dari bahasa jepangnya mawar (butik Mommy memang berciri khas mawar) kalau Finch diambil dari nama burung yang suka makan buah mawar jenis Rose Hips. Kenapa nggak aku aja yang dikasih nama Finch? DX
“Kan kamu punya banyak cewek. Main sama mereka aja.”
“Cantikkan kamu—eits!”
Aku menggeram kesal saat kakiku nggak berhasil bikin dia nyium lante. Masalahnya kakiku di tangkep sama Styx. Aku berontak, tapi dia masih usil megangin kaki kananku. Cih.
“Mungil banget sih kakinya.”
“Shut up!”
Akhirnya aku bisa ngelepas genggaman tangan Styx dari pergelangan kakiku. Dengan kesal aku tutup laptopku yang baru aja aku matiin. Aku berdiri dari kasur, meletakkan laptop di mejaku lalu aku duduk di sofa depan tv. Dengan asal aku menyalakan tv dan memindah-mindah channel hinggal aku menemukan acara musik.
“Halo, darlingg~~”
Mommy tiba-tiba muncul dari pintu masuk. Aku mandang wajah Mommy. Ugh… Senyumnya bikin perasaanku nggak enak. Buruk nih… Aku jadi pengin kabur.
“Berita bagus! Butik mama udah positif mau di buka!”
Hah? butik? He? Selama ini mama buka butik online. Jadi, maksudnya mama udah punya butik nyata ya? Terus, apa bagusnya buat aku?
“Jadi, kalian bakal jadi tamu special di peresmian butik!”
Hoh… Cuma tamu…
“Nah! Siap-siap ya. Styx nggak sibuk kan?”
“Nggak kok, Ma, dengan senang hati aku bakal dateng.”
“Sip. Mama sudah siapin bajunya! Ayo, Za! Mommy juga udah siapin gaun buat kamu.”
“Oke, Mom…” Aku matiin tv. Dengan malas aku ngeloyor pergi ngelewatin mama yang berdiri diem di depan pintu masuk kamatku. Ngapain sih mama ngeliatin aku?
“You’re okay, dear?”
Ha? Ngapin juga Tanya-tanya. Emang aku keliatan kayak orang kena leukemia yang kecapean gara-gara sejam ngadep laptop non-stop. “I’m okay, mom…”
“Maksud Mommy, kok tumben kamu nggak protes mommy suruh pake gaun?”
“Ha? Gaun? Memang Mommy bilang ya tadi?”
“Hah~ berapa sih IQmu, kok akhir-akhir ini kamu jadi lemot, sayang…”
“OGAH! OGAH! OGAH! GAUN LAGI?!! KELUAR RUMAH???” Mau ditaruh dimana muka cowok tulenku kalau ada yang tahu? Nggak, nggak, nggak, maksudku, mau dikemanakan mukaku sebagai ketua OSIS yang baik? Mama jahattt!!!
“Kayaknya Mommy belum dapet kabar kalau CDnya udah di kirim deh.”
“What?! Mommy kan udah janji!!”
Aku menggaruk tembok frustasi.
--
“Mommy, sepatunya kekecilan nih.”
“Masa? Alesan kamu, udah pake.”
“Eh, serius, Mom.”
“Mama udah pastiin ukurannya, pas kok.”
“Cih.”
Aku pasrah saja waktu Mbak Lia masangin sepatu boots dengan hak super tinggi(cuma 5 cm sih, tapi itu udah tinggi buat ukuran cowok! DX). Aku merhatiin tangan langsing Mbak Lia yang lincah menali tali sepatu dengan simpul yang nggak aku ngerti.
“Kaos tangannya pas?” Mommy mastiin kalau tangan aku bebas bergerak.
“Pas sih, tapi panas. Ngapain sih pake kulit? Biasa pake rajutan, juga!”
“Mommy Cuma lagi coba, ih! Kamu berisik, ya.”
“Bodo”
“Tenang dong, kayak Finch.”
Ctak—
Aku melirik sosok Styx yang berdiri tak jauh dariku. Kulihat ada seorang cowok lain yang bantu dia make coat. Styx melambai padaku, nggak lupa senyum genit andalannya. Astaganagaulartangga… Pengin muntah aku liatnya.
Aku Cuma bales uluran lidahku kilat. Dia hanya terlalwa pelan. Kemudian Styx kembali sibuk dengan pakaiannya.
“Wignya kenceng nggak?”
“Cukup, Mom. Mau bikin rambut aku rontok?”
“Matanya?”
“Perih.” Aku mengedipkan mataku perih. Ugh, kontak lens sialan!
“Oke, bagus—“ Buset, anaknya kesakitan gini Mommy malah ngomong ‘bagus’ =.=a, siapa sih Mommy? “—jadi, kalian tinggal duduk aja di café. Nggak susah kan?”
Styx mengangguk paham, sedangkan aku cuma diem. Sesekali kurasakan hidungku gatal saat Mbak Lia mulai aksi dengan ‘senjata’nya yang berupa kuas. Hah… Bulu mata palsu ini bikin aku ngantuk. Kelopak matanya berat, euy!
“Ada menu apa aja, ma?” Please deh Styx, bukan kakakku bukan adikku, jangan panggil Mommy dengan sebutan mama. Aneh tahu! ;o;
“Tenang aja, darling. Untukmu mama udah siapin es krim special.”
“Sip deh, ma!”
Mereka sekongkol ya? Kok akrab gitu. Gah! Nggak ngerasain merananya aku, apa?!! >^<
“Nah, 5 menit lagi toko di buka. Kalian udah harus duduk di meja yang udah di siapin ya!” Mommy mengedip cepat, kemudian ia berlalu di telan pintu entah kemana.
Oh ya aku lupa jelasin. Butik mama itu ternyata gabung sama café. Aku nggak tahu sih café macam apa tapi yang ada di bayanganku itu pasti café yang nggak jauh-jauh dari renda, lampu berlian, kegelapan, suara lagu seriosa(?). Bikin merinding =w=.
“Ayo, Bara.”
“Jangan panggil pake nama itu.” Aku mengerucutkan bibirku. Aneh banget gak sih, tuh nama? Emang aku batu bara, apa?!
“Mama nyuruh kita pake nama gitu, atau kamu pengin aku panggil Zahra biar semua temen sekolah kita tahu kalau—“
“Fine, tuan Finch!”
“Nice, girl.”
Aku mendengus kesal saat mau nggak mau aku nerima uluran tangan Styx yang bantu aku berdiri dari dudukku. Ugh, kakiku mulai terasa cenat-cenut. Ternyata emang agak kesempitan, lebih lagi sepatu gothic itu beraaaaattttt(ngasal)!!!! Coba aja deh dipake(?)!!!
“Gak usah pegang pinggang kan?” Aku berontak waktu mendapati tangan Styx melingkar di pinggangku. Apa-apaan sih dia. Boleh sih menghayati peran, tapi kan belum waktunya peran dilakuin? =.= Fufufu… Kalau nih sepatu ‘nabrak’ pipinya gimana ya?
“Pengin. Kamu makan apa aja sih? Serius, kurus banget.”
“Nyindir?”
“Sedikit.”
Mada ada sedikit nyindir =.= adanya nyindir ‘halus’.
“Makan makanan manusia. Nggak kayak kamu.”
“Loh, es krim juga makanan manusia kok.”
Aku memutar bola mataku kesal.
TBC

1 komentar:
Bertobatlah dari dosa crossdresser!!!
Islam
Di dalam etika Islam, seorang laki-laki menggunakan pakaian wanita atau sebaliknya seorang wanita menggunakan pakaian laki-laki adalah perkara yang dilarang. Hal ini berdasarkan kutipan:
لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم الرجل يلبس لبسة المرأة والمرأة تلبس لبسة الرجل "Rasulullah SAW melaknat lelaki yang berpakaian wanita dan wanita yang berpakaian laki-laki". (HR. Abu Daud, An-Nasai, Ahmad, dan Ibnu Hibban Diriwayatkan dari Abu Hurairah)[1]
Sebagaimana yang telah diketahui secara umum, aurat yang harus ditutup oleh laki-laki berbeda dengan dan wanita yang harus mengenakan pakaian yang menutup aurat secara sempurna.[2] Larangan menyerupai lawan jenis ini tidak terbatas pada pakaiannya saja namun mencakup sikap, gaya bicara dan jalannya.[3]
لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم التمشبهين من الرجال بالنساء والتشبهات من النساء بالرجال "Allah melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki." (HR. Al-Bukhari, Diriwayatkan dari Ibnu Abbas).
Tujuan pelarangan tersebut adalah sebagai penjagaan fitrah, kehormatan (muruah), dan sebagai bentuk hikmah.
Yahudi
Seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki dan seorang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan, sebab setiap orang yang melakukan hal ini adalah kekejian bagi Tuhan, Allahmu.
—Ulangan 22:5
Source : Wikipedia
Posting Komentar